Ekonom: Likuiditas Rp1.000 Triliun Belum Sentuh Sektor Riil

Andi Desfiandi Nilai Krisis Kepercayaan Hambat Investasi, Pelaku Usaha Desak Stimulus dan Kredit Murah

BANDAR LAMPUNG – Operasi likuiditas Bank Indonesia (BI) yang dikabarkan telah menembus Rp1.000 triliun hingga akhir Juni memicu beragam tanggapan dari kalangan pelaku usaha dan ekonom. Meski likuiditas perbankan diperkuat, dunia usaha menilai manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan sektor riil yang saat ini menghadapi perlambatan ekonomi dan lemahnya daya beli masyarakat.

Akademisi sekaligus ekonom Lampung, Andi Desfiandi Alfian, menilai persoalan utama bukan sekadar besarnya dana yang digelontorkan BI, melainkan masih rendahnya kepercayaan (trust) pelaku pasar terhadap arah kebijakan ekonomi.

“Jangan seperti buang garam di laut, karena masalah utamanya adalah trust issue. Pemerintah harus fokus mengembalikan kepercayaan melalui kebijakan yang pro market dan pro investment,” ujar Andi, Kamis (2/7).

Menurutnya, intervensi pasar yang terus dilakukan BI juga berpotensi menggerus cadangan devisa apabila berlangsung tanpa diikuti perbaikan fundamental ekonomi. Ia mengingatkan ruang fiskal pemerintah semakin terbatas sehingga dibutuhkan langkah-langkah strategis untuk mendorong investasi dan menjaga pertumbuhan ekonomi.

Andi memperkirakan perlambatan belanja pemerintah dan investasi dapat berdampak pada menurunnya konsumsi masyarakat yang akhirnya menekan pertumbuhan ekonomi nasional.

Sementara itu, pelaku usaha Heridian menilai likuiditas yang besar belum mengalir ke sektor produktif. Menurutnya, pengusaha masih kesulitan memperoleh akses pembiayaan, sementara dunia usaha membutuhkan kredit berbunga rendah dan kepastian iklim investasi.

“Sektor riil butuh stimulus, bunga murah, dan kepastian usaha. Pengusaha sekarang kekurangan fresh money, sementara dana lebih banyak tertahan di perbankan,” ujarnya.

Ia juga berharap pemerintah lebih agresif mendorong pembiayaan bagi sektor produksi agar mampu menggerakkan kembali dunia usaha dan meningkatkan daya beli masyarakat.

Menanggapi hal itu, Andi menjelaskan bahwa kondisi perbankan saat ini juga menghadapi tantangan likuiditas. Bank, kata dia, tengah berlomba menghimpun dana masyarakat sekaligus menjaga kualitas kredit karena meningkatnya risiko kredit bermasalah (non-performing loan/NPL).

Perdebatan tersebut mencerminkan kekhawatiran berbagai kalangan terhadap perlambatan ekonomi nasional, sekaligus menjadi masukan agar kebijakan moneter dan fiskal lebih efektif dalam menggerakkan sektor riil serta memulihkan kepercayaan dunia usaha. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *