Nurhasanah: Wayang Kulit Perekat Persaudaraan dan Warisan Leluhur yang Harus Dijaga
LAMPUNG SELATAN – Ketua Pengurus Daerah (Pengda) Tenaga Pembangunan (TP) Sriwijaya Lampung, Nurhasanah, menghadiri Pagelaran Wayang Kulit dalam rangka Hari Lahir (Harlah) ke-46 Paguyuban Keluarga Besar Pujakesuma (PUJAKUSUMA) sekaligus Grebek Sura yang digelar di Kota Baru, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Rabu malam (1/7/2026).
Kegiatan yang dihadiri tokoh masyarakat, pengurus Pujakesuma, serta ratusan warga itu menjadi ajang pelestarian budaya Jawa sekaligus mempererat tali silaturahmi antarmasyarakat lintas etnis di Provinsi Lampung.
Nurhasanah mengapresiasi konsistensi Pujakesuma dalam menjaga tradisi dan nilai-nilai budaya melalui pagelaran wayang kulit yang sarat pesan moral dan kebangsaan.
“Wayang kulit bukan sekadar hiburan, tetapi media pendidikan karakter yang mengajarkan nilai kejujuran, gotong royong, dan kebijaksanaan. Tradisi seperti ini harus terus dijaga agar tidak tergerus perkembangan zaman,” ujar Nurhasanah.
Ia menilai, peringatan Harlah Pujakesuma ke-46 menjadi momentum memperkuat persatuan masyarakat sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada generasi muda.
“Melalui kegiatan budaya seperti ini, kita memperkuat rasa persaudaraan, menjaga kerukunan, serta mewariskan identitas budaya kepada anak cucu. Lampung adalah rumah bersama yang dibangun atas keberagaman,” katanya.
Nurhasanah berharap kolaborasi antara organisasi kemasyarakatan, pemerintah, dan komunitas budaya terus ditingkatkan agar tradisi luhur tetap hidup dan menjadi bagian dari pembangunan karakter bangsa.
Pagelaran Wayang Kulit dalam rangka Harlah Pujakesuma ke-46 dan Grebek Sura berlangsung meriah dengan dihadiri masyarakat dari berbagai daerah di Lampung. Selain menjadi hiburan rakyat, acara tersebut menjadi simbol komitmen bersama dalam merawat nilai-nilai budaya, memperkuat persaudaraan, dan menjaga harmoni di tengah keberagaman. (*)






