Isbedy Stiawan ZS Rayakan Milad ke-68, Seniman Nasional Siap Beri Testimoni
JAKARTA – Penyair senior asal Lampung, Isbedy Stiawan ZS, kembali menegaskan eksistensinya di panggung sastra nasional. Bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-68, buku terbarunya bertajuk “Puisi 68” akan resmi diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Rabu (15/7) petang.
Peluncuran buku yang dirangkai dengan diskusi sastra dan pembacaan puisi itu dipastikan dihadiri sejumlah penyair, budayawan, akademisi, pejabat, hingga tokoh sastra nasional. Sedikitnya 20 pembaca puisi dijadwalkan tampil membacakan karya-karya Isbedy.
Sastrawan Jakarta sekaligus panitia dari Pojok TIM, Nanang R. Supriyatin, mengajak para seniman dan pegiat sastra untuk hadir meramaikan perayaan milad ke-68 penyair yang dijuluki “Paus Sastra Lampung” oleh kritikus sastra HB Jassin tersebut.
“Kami mengundang seluruh seniman, penyair, dan pegiat sastra untuk hadir. Ini bukan hanya peluncuran buku, tetapi juga perayaan atas dedikasi panjang Bang Isbedy dalam merawat sastra Indonesia. Sampai tadi malam sejumlah sastrawan seperti Riri Satria, Remmy Novaris DM, Arief Joko Wicaksono telah menyatakan hadir memberikan testimoni. Bahkan kami mendapat informasi Pak Taufiq Ismail juga akan hadir,” ujar Nanang.
Selain peluncuran buku, acara juga diisi pembacaan puisi oleh tokoh-tokoh sastra nasional seperti Jose Rizal Manua, Helvy Tiana Rosa, Nia Samsihono, Humam S. Chudori, Wig SM, hingga jajaran pengurus PDS HB Jassin dan Dewan Kesenian Jakarta.
Dari Lampung, sejumlah sahabat Isbedy turut ambil bagian, di antaranya Dzafira Adeliaputri Isbedy, Tri Lestari, Iin M. Zakaria, Noviawan Ail, dan Erika Novalia Sani, sementara Fitri Angraini dipercaya menjadi moderator diskusi karya.
Nanang menilai peluncuran “Puisi 68” menjadi momentum penting bagi perkembangan sastra Lampung di tingkat nasional.
“Kehadiran Bang Isbedy di PDS HB Jassin melalui buku ‘Puisi 68’ merupakan gelombang besar bagi kesastraan Lampung. Ini menunjukkan bahwa karya-karya sastrawan Lampung mampu mendapat tempat terhormat di panggung sastra Indonesia,” katanya.
Sastrawan sekaligus wartawan Yon Bayu Wahyono juga menyebut Isbedy sebagai salah satu ikon sastra Indonesia yang tetap produktif melahirkan karya berkualitas di usia 68 tahun.
“Bang Isbedy membuktikan bahwa produktivitas dan kualitas dapat berjalan beriringan. Beliau masih aktif menulis, memenangkan berbagai lomba puisi, lolos kurasi di banyak event sastra, dan terus menjadi inspirasi bagi generasi muda,” ujar Yon Bayu.
Sementara itu, Ketua Jagat Sastra Milenia Jakarta, Riri Satria, menilai julukan “Paus Sastra Lampung” bukan sekadar penghargaan atas banyaknya karya yang dihasilkan Isbedy, tetapi juga bentuk pengakuan atas dedikasinya membangun ekosistem sastra di Lampung.
“Bang Isbedy tidak hanya tekun menulis puisi, tetapi juga setia merawat kehidupan sastra. Melalui Lamban Sastra, beliau menjadi pengayom bagi banyak penulis muda. Sastra tidak hanya hidup melalui buku, tetapi juga melalui orang-orang yang dengan sabar merawatnya, dan Bang Isbedy adalah salah satunya,” ungkap Riri.
Peluncuran “Puisi 68” menjadi penanda perjalanan panjang Isbedy Stiawan ZS dalam dunia sastra Indonesia. Di usia yang ke-68, penyair, wartawan, sekaligus pegiat literasi itu terus menunjukkan bahwa kreativitas, dedikasi, dan semangat merawat sastra tidak mengenal batas usia. Baginya, sastra bukan sekadar karya, melainkan warisan budaya yang harus terus dijaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya. (*)






