Dosen STAI Ibnu Rusyd Kotabumi: Sinergi Ayah, Ibu, dan Guru PAUD Jadi Kunci Tumbuh Kembang Optimal
Kotabumi – Keberhasilan pendidikan anak usia dini tidak cukup hanya mengandalkan peran guru di sekolah. Kolaborasi erat antara ayah dan ibu dalam mendampingi anak di rumah menjadi faktor penentu agar anak dapat tumbuh optimal pada masa golden age, fase yang menjadi fondasi pembentukan karakter, kecerdasan, serta kemampuan sosial-emosional.
Pandangan tersebut disampaikan Dosen STAI Ibnu Rusyd Kotabumi, Halen Dwistia, M.Pd, yang menegaskan bahwa masa usia dini merupakan periode paling krusial dalam perkembangan anak karena otak dan karakter berkembang sangat cepat.
“Tumbuh kembang anak merupakan hasil dari kolaborasi dan kerja sama yang baik antara kedua orang tua. Anak membutuhkan lingkungan yang penuh kasih sayang, rasa aman, dan dukungan agar dapat berkembang sesuai potensinya,” ujar Halen, Senin (6/7).
Menurutnya, setiap anak memiliki karakter, minat, dan tahapan perkembangan yang berbeda sehingga orang tua tidak seharusnya membandingkan kemampuan anak dengan teman sebayanya. Fokus utama orang tua adalah memberikan pendampingan sesuai usia dan kebutuhan anak.
Ia menilai kebiasaan membandingkan kemampuan membaca, menulis, atau berhitung justru dapat menghambat perkembangan psikologis anak. Sebaliknya, orang tua perlu menghargai setiap potensi yang dimiliki, baik di bidang seni, komunikasi, maupun aktivitas fisik.
Halen mencontohkan kolaborasi orang tua dapat dimulai dari aktivitas sederhana, seperti ayah membacakan cerita sebelum tidur, ibu mendampingi permainan edukatif, hingga bersama-sama menanamkan kebiasaan disiplin, sopan santun, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Selain peran keluarga, komunikasi intensif antara orang tua dan guru PAUD juga dinilai menjadi kunci keberhasilan pendidikan anak. Pertukaran informasi mengenai kebiasaan, minat, maupun tantangan yang dihadapi anak akan membantu menyusun pola pendampingan yang tepat.
Halen menegaskan, keberhasilan pendidikan anak usia dini tidak semata diukur dari kemampuan akademik, melainkan dari terbentuknya pribadi yang percaya diri, mandiri, mampu mengelola emosi, memiliki rasa ingin tahu tinggi, serta mampu bersosialisasi dengan baik.
“Sinergi antara orang tua dan sekolah menjadi modal utama dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan masa depan,” tegas Halen. (*).






