KORANEDITOR.CO, TULANG BAWANG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Tulang Bawang segera mengambil langkah tegas dan cepat untuk menindaklanjuti serta menyelesaikan kasus perkelahian antar siswa SMP Negeri 05 Dente Teladas. Rekaman kejadian tersebut sempat beredar luas di media sosial dan memicu beragam spekulasi di kalangan masyarakat.
Kasus ini mencatat dua peristiwa perkelahian yang melibatkan siswa kelas VII, peserta didik yang baru saja menyelesaikan masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Salah satu kejadian direkam dan disebarkan secara daring, sementara kasus lainnya berujung pada salah satu siswa mengalami patah lengan.
Kepala Disdikbud Tulang Bawang, M. Ami Iswandi Ismet Balaw, didampingi Kepala Bidang Pendidikan Dasar Firdaus serta Kepala Seksi PAUD dan PNF Tri Sumarto, menjelaskan bahwa pihaknya langsung turun ke lokasi sejak malam saat informasi kejadian diterima, Senin (27/07/2026).
“Kami sudah berada di Dente Teladas sejak malam kemarin. Bahkan pagi ini saya sendiri yang memimpin langsung upacara di sekolah. Setelah itu baru kami selenggarakan rapat musyawarah bersama orang tua dan siswa untuk mendengar kronologi kejadian yang sebenarnya,” ujar Ami saat memberikan keterangan, Senin (27/7/2026).
Musyawarah tersebut digelar di Aula SMPN 05 Dente Teladas dengan mengundang seluruh pihak terkait, mulai dari jajaran pengawas pendidikan yang diwakili Narayana, pihak kepolisian Polsek Dente Teladas, Babinkantibmas, Kepala Kampung Dente Makmur Marlena, Camat Dente Teladas Sukadi, Kepala Sekolah SMPN 05 Dente Teladas Yepi, serta seluruh dewan guru sekolah.
“Seluruh pihak terkait kami undang untuk bermusyawarah dan mengambil keputusan bersama. Mengingat ini menyangkut peserta didik, Dinas Pendidikan memiliki kewajiban memfasilitasi penyelesaian agar permasalahan tuntas. Harapannya, tidak ada lagi rasa dendam maupun kejadian serupa menimpa siswa ke depannya,” tegasnya.
Melalui pertemuan ini, Ami juga menghimbau seluruh dewan guru, wali murid, dan peserta didik SMPN 05 Dente Teladas untuk lebih meningkatkan kualitas diri, rajin belajar, dan meraih prestasi yang membanggakan.
“Bagi para guru, ke depannya harus lebih aktif memantau perkembangan peserta didik. Segera sampaikan kepada orang tua apabila ada perubahan perilaku maupun perkembangan anak di sekolah. Sementara itu, orang tua juga diharapkan lebih aktif memantau putra-putrinya. Peran orang tua sangat menentukan sikap dan perilaku anak. Alhamdulillah, hari ini seluruh pihak sepakat menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Mari kita bersama-sama membimbing peserta didik agar tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan berakhlak mulia, selaras dengan semangat Udang Manis,” imbuhnya.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun, kedua peristiwa perkelahian terjadi di lokasi berbeda dan melibatkan empat siswa kelas VII yang baru diterima di sekolah tersebut. Kedua insiden dipicu oleh rasa tidak suka atau dendam yang sudah ada sejak mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Kasus pertama terjadi pada Sabtu, 18 Juli 2026, antara MN dan AS di dalam ruang kelas saat jam pelajaran Matematika. Peristiwa berlangsung lima menit sebelum jam istirahat, saat guru mata pelajaran Trilia Jugennita keluar ruangan sejenak untuk mengambil tinta spidol.
Saat guru meninggalkan kelas, salah satu siswa bernama F menjitak kepala MN lalu tertawa. Ketika melihat AS ikut tertawa, F dan rekannya R memerintahkan MN untuk memukul kepala AS. Jika menolak, MN diancam akan dipukul oleh F. Karena merasa terancam, MN akhirnya memukul AS yang kemudian memicu perkelahian keduanya.
Peristiwa ini direkam menggunakan ponsel oleh F, lalu disebarkan ke sejumlah teman hingga dijadikan status WhatsApp dan akhirnya menyebar luas ke berbagai platform media sosial. Guru langsung menghentikan dan menengahi perkelahian begitu kembali ke ruangan kelas.
Kasus kedua terjadi pada Jumat, 24 Juli 2026, antara MAR dan DF. Keduanya sempat saling ejek nama orang tua saat berada di dalam kelas, sehingga memicu pertengkaran yang sempat dilerai siswa lain. Namun DF belum merasa puas dan mengajak MAR berkelahi di area perkebunan karet usai pulang sekolah.
Perkelahian tersebut disaksikan puluhan siswa yang berusaha melerai, namun DF menolak untuk berhenti. Dalam pertarungan itu, DF kewalahan dan terlempar saat dibanting oleh MAR, sehingga menyebabkan lengan DF mengalami patah tulang. (tri)






