Program Jangkau 69 Sekolah dan 13.400 Siswa, AKJJ 2026 Perkuat Kolaborasi Media Wujudkan Generasi Sehat Indonesia
Bandarlampung – Provinsi Lampung kembali menjadi bagian penting perjalanan JAPFA for Kids, program tanggung jawab sosial PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) yang telah berjalan selama 18 tahun dalam mendukung perbaikan gizi dan kesehatan anak Indonesia. Tahun ini, program menjangkau 15 sekolah, 2.051 siswa, dan 165 guru di Kabupaten Lampung Selatan, sekaligus menjadi rangkaian Media Gathering Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026.
Mengusung tema “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa – Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan”, JAPFA mengajak insan media memperkuat edukasi publik tentang pentingnya pemenuhan gizi anak sekaligus mengangkat dampak nyata program di berbagai daerah.
Head of Unit RPA Lampung Muzammil mengatakan, Lampung merupakan salah satu provinsi pertama yang menjadi lokasi pelaksanaan JAPFA for Kids sejak 2008 dan hingga kini terus menjadi bagian penting dalam pengembangan program.
“Sejak pertama kali dijalankan pada tahun 2008, JAPFA for Kids telah menjadikan Provinsi Lampung sebagai salah satu wilayah implementasi program. Komitmen tersebut terus kami lanjutkan di berbagai kabupaten hingga kembali hadir di Lampung pada tahun ini dengan jangkauan yang lebih luas. Kami berharap semakin banyak anak memperoleh manfaat dari program ini, sekaligus memperkuat kolaborasi bersama pemerintah, sekolah, tenaga kesehatan, masyarakat, dan media untuk mewujudkan generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan berkualitas,” ujar Muzammil.
Perjalanan JAPFA for Kids di Lampung dimulai di Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur pada 2008. Program kemudian berkembang ke Lampung Selatan, Tanggamus, Pringsewu, Pesawaran, hingga kembali hadir di Lampung Selatan pada 2026. Secara keseluruhan, program telah menjangkau 69 sekolah dan lebih dari 13.400 siswa di Provinsi Lampung.
Berbagai kegiatan yang dilaksanakan meliputi edukasi empat pilar gizi seimbang, pembiasaan hidup sehat melalui Hari Sehat JAPFA, edukasi konsumsi protein hewani, pemantauan status gizi siswa, pelatihan guru, hingga pendampingan sekolah agar budaya hidup sehat tertanam sejak usia dini.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan 11 persen anak usia 5–12 tahun masih mengalami gizi kurang dan gizi buruk. Sementara pemantauan JAPFA pada lokasi program sepanjang 2024 mencatat 10,1 persen siswa masih berada dalam kondisi malagizi, sehingga dibutuhkan kolaborasi berkelanjutan dari berbagai pihak.
Head of Social Investment JAPFA Retno Artsanti menjelaskan, keberhasilan program tidak lepas dari pendekatan yang terintegrasi, mulai dari intervensi gizi hingga perubahan perilaku hidup sehat.
“Dalam implementasinya, JAPFA for Kids menjalankan pendekatan yang terintegrasi, mulai dari pemberian protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan bagi siswa dengan kondisi malagizi, pemantauan rutin berat dan tinggi badan melalui aplikasi digital, hingga pembiasaan perilaku hidup sehat melalui Hari Sehat JAPFA. Program ini juga dilengkapi edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, serta monitoring berkala agar dampaknya dapat terukur secara konsisten,” jelas Retno.
Hingga 2026, JAPFA for Kids telah menjangkau 217.706 siswa, 14.713 guru, dan 1.308 sekolah di 106 kabupaten/kota pada 28 provinsi. Dampak program juga terlihat dari peningkatan status gizi peserta. Pada 2024, 51,5 persen siswa yang sebelumnya mengalami gizi kurang berhasil mencapai status gizi baik, sedangkan pada 2025 angkanya meningkat menjadi 62,5 persen.
Melalui AKJJ 2026, JAPFA juga mengajak media menjadi mitra strategis dalam memperluas edukasi publik mengenai pentingnya gizi anak. Kompetisi karya jurnalistik tersebut melibatkan dewan juri dari kalangan jurnalis senior, fotografer jurnalistik, dan pakar gizi masyarakat.
“Kami berharap semakin banyak karya jurnalistik yang mampu mengangkat cerita, data, dan praktik baik dari lapangan sehingga dapat memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pemenuhan gizi anak. Kolaborasi antara dunia usaha, media, pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, dan keluarga menjadi fondasi penting dalam menciptakan generasi Indonesia yang lebih sehat dan berkualitas,” tutup Retno Artsanti. (*)






