PESISIR BARAT — Festival Nyambai 2026 resmi ditutup, Sabtu (15/8/2026) malam. Bupati Pesisir Barat, Dedi Irawan, menegaskan bahwa adat dan budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan identitas yang harus terus hidup di tengah perubahan zaman.
“Adat budaya adalah identitas, karena itu terus hidupkan dalam kehidupan sehari-hari,” tegas Dedi Irawan saat memberikan sambutan sekaligus menutup Festival Nyambai 2026 di Desa Budaya Bumi Lebu, Pesisir Barat.
Festival yang digelar Lamban Lembah Pesawaran pada 14–15 Agustus 2026 tersebut mendapat apresiasi dari Bupati. Menurutnya, kegiatan Nyambai menjadi ruang penting untuk memperkuat silaturahmi, persaudaraan sekaligus menanamkan kecintaan generasi muda terhadap adat dan budaya Lampung.
Dedi berharap nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Nyambai tidak berhenti setelah festival berakhir. Para muli dan mekhanai yang telah ambil bagian diharapkan mampu meneruskan semangat kebersamaan dan menjaga tradisi dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan pernah merasa bahwa budaya kita adalah sesuatu yang kuno. Justru di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, adat dan budaya menjadi identitas yang menunjukkan siapa kita dan dari mana kita berasal,” ujar Dedi.
Ia menekankan, pelestarian budaya membutuhkan kesinambungan. Karena itu, silaturahmi, persaudaraan dan kreativitas yang tumbuh melalui Festival Nyambai harus terus dijaga.
“Kita ingin anak-anak kita kelak masih menyaksikan Nyambai, masih mengenal budaya dan adat Saibatin, masih memahami makna setiap gerakan dan tradisinya,” katanya.
Nyambai Perkuat Gotong Royong
Sebelumnya, Ketua Pelaksana Festival Nyambai 2026, Novri Rahman, menjelaskan bahwa Nyambai berasal dari kata sakai sambaian, yang mengandung makna saling membantu dan bergotong royong.
Menurutnya, filosofi tersebut menjadi ruh pelaksanaan festival, yakni mempererat silaturahmi, menjaga persaudaraan serta merawat budaya dan tradisi yang diwariskan para leluhur.
Festival Nyambai 2026 menghadirkan perwakilan dari enam marga Saibatin di Pesisir Barat. Masing-masing utusan terdiri dari dua muli dan dua mekhanai yang menampilkan tarian khas marga.
Ketua Yayasan Lamban Lembah, Arman AZ, pada kesempatan tersebut menyerahkan piagam penghargaan kepada lima perwakilan marga serta Bupati Pesisir Barat sebagai bentuk apresiasi atas dukungan terhadap pelestarian budaya.
Kegiatan penutupan turut dihadiri tokoh adat dari 10 marga yang tampil, budayawan, akademisi dan seniman Lampung. Di antaranya Ari Pahala Hutabarat, Alexander GB, Yulizar Lubay, Edi Siswanto dari Universitas Lampung, Erwin dari Universitas Saburai, Isbedy Stiawan ZS, Haris Forta, Hislat Habib Ali Dengi, serta sejumlah tokoh lainnya.
Festival Nyambai 2026 pun ditutup bukan sekadar sebagai akhir sebuah perhelatan budaya, tetapi menjadi penegasan bahwa adat, tradisi dan identitas Lampung harus terus diwariskan dari generasi ke generasi. (*).






