Lomba Balon, Hadiah Kulkas hingga Joget DJ, Perayaan HUT RI ke-81 Jadi Ajang Lepas Penat dan Pererat Persaudaraan
BANDAR LAMPUNG — Jumat sore, 21 Agustus 2026, para wartawan yang tergabung dalam Ikatan Jurnalis Provinsi (IJP) Lampung untuk sesaat melupakan deadline, telepon yang tak berhenti berdering, serta rutinitas mengejar berita.
Di Green Sport Arena, Bandar Lampung, para insan pers justru sibuk mengejar balon, menendang bola dengan botol minuman, menyantap biskuit, mengadu ketangkasan dalam estafet gelang karet, hingga berjoget bersama diiringi musik DJ.
Tak ada konferensi pers. Tak ada narasumber yang dikejar. Tak ada berita yang harus segera dikirim ke meja redaksi.
Yang ada hanya tawa.
Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI bersama IJP Lampung itu berubah menjadi panggung hiburan sederhana, tetapi meninggalkan cerita yang justru jauh lebih panjang daripada sekadar daftar pemenang lomba.
Aksi para peserta berlangsung spontan. Tingkah lucu, strategi yang kadang tidak masuk akal, hingga ekspresi peserta ketika berusaha memenangkan permainan membuat rekan-rekan sesama wartawan tak kuasa menahan tawa.
Bahkan setelah acara selesai, kemeriahan itu masih berlanjut di grup percakapan para anggota IJP.
Salah seorang peserta, Putra Metropolis, dengan nada bercanda mengaku akhirnya memiliki cerita istimewa untuk dibawa pulang.
“Makasih KSB dan pengurus serta Ketua dan tim HUT-RI IJP, akhirnya bapak bisa cerita ke anak kalau bapak juara 1 lomba balon,” tulisnya sambil menyertakan emoji tertawa.
Kalimat sederhana itu menggambarkan suasana acara: kompetisi tetap ada, tetapi kemenangan dirayakan dengan tawa dan saling meledek.
Bagi peserta lainnya, lomba bukan sekadar mencari siapa yang paling cepat atau paling kuat.
“Seru dan lucu. Biasanya kami serius mengejar berita, hari ini bisa santai dan tertawa bersama teman-teman. Yang penting kompak,” ujar Rudi.
Dari Balon Sampai “Buka Kelontongan”
Hadiah yang disediakan panitia juga menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita.
Kulkas, kipas angin, setrika, kompor gas dan berbagai hadiah lainnya membuat peserta semakin bersemangat. Bahkan gurauan soal hadiah terus mengalir setelah perlombaan usai.
Ahmad Mufid, salah seorang peserta, bahkan mengaku hadiah yang diperolehnya akan dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah.
“Buat isi rumah bang,” ujarnya bercanda.
Ia sekaligus menyampaikan apresiasi kepada jajaran pengurus dan panitia IJP Lampung.
“Makasih banyak ketua IJP dan jajaran pengurus yang oke oce. Lancar pintu rezekinya, sehat badan dan pikirannya. Makasih kakak ketuplak dan tim yang the best. IJP kerennnn,” tulisnya.
Canda lain pun bermunculan. Ada yang meminta bagian hadiah, ada yang menggoda pemenang agar mentraktir makan, bahkan ada yang berseloroh bahwa rumah salah seorang peserta sudah penuh hadiah.
“Ini mah langsung buka kelontongan di rumah,” tulis Rudi dalam percakapan grup.
Candaan tersebut disambut tawa anggota lainnya.
Di tengah suasana itu, ada pula peserta yang mengaku belum mendapatkan hadiah.
Namun keluhan tersebut justru menjadi bahan candaan baru.
“Cuma aku yang gak dapet apa-apa gituuuuu,” tulis Septiani Kinni Id dengan nada manja.
Rekan-rekannya langsung merespons dengan candaan dan menawarkan berbagai solusi khas pertemanan.
Yang Dibawa Pulang Bukan Cuma Hadiah
Di balik riuhnya lomba dan banjir hadiah, terdapat pesan yang jauh lebih penting.
Ketua IJP Lampung, Abung Mamasa, mengatakan perayaan HUT RI menjadi momentum memperkuat kebersamaan dan silaturahmi antarwartawan.
“Menang atau kalah bukan yang utama. Yang terpenting adalah kita bisa berkumpul, bersilaturahmi dan merayakan kemerdekaan dengan penuh sukacita,” katanya.
Semangat tersebut juga terasa dalam pesan penutup panitia.
“Karena sebanyak apapun hadiahnya kalau kalian gak hadir tetap sia-sia juga,” tulis Septiani, mewakili KSB dan tim panitia HUT RI IJP Lampung.
Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh anggota yang telah hadir dan meluangkan waktu untuk ikut meramaikan kegiatan.
“Semoga kita semua kompak terus, dan kebersamaan yang kita jalin terus tumbuh,” tulisnya.
Pesan itu kemudian ditutup dengan kalimat yang menjadi semacam ikrar kebersamaan:
“IJP Lampung Solid. Sampai ketemu di tahun depan yang lebih meriah.”
Dari Serius Mengejar Berita, Menjadi Pemeran Utama Tawa
Sehari-hari, wartawan berada di garis depan untuk mencari fakta. Mereka berlari mengejar momentum, menghadapi tekanan waktu, menunggu narasumber, menyusun berita, lalu kembali turun ke lapangan.
Namun Jumat itu berbeda.
Mereka bukan sekadar orang-orang yang memegang kamera, mikrofon, telepon genggam atau laptop.
Mereka adalah kawan, sahabat dan satu keluarga besar yang sedang merayakan kemerdekaan.
Tak penting siapa yang paling cepat.
Tak penting siapa yang membawa pulang hadiah paling banyak.
Bahkan tak penting siapa yang menjadi juara umum.
Yang jauh lebih penting adalah mereka pulang membawa cerita.
Cerita tentang teman yang terjatuh karena terlalu bersemangat.
Cerita tentang lomba balon yang membuat seorang ayah bangga bisa bercerita kepada anaknya.
Cerita tentang hadiah yang membuat rumah disebut-sebut bisa berubah menjadi “kelontongan”.
Dan terutama cerita tentang sebuah komunitas wartawan yang memilih tertawa bersama di tengah kerasnya rutinitas jurnalistik.
Sebab, di balik setiap berita yang mereka tulis tentang orang lain, sesekali mereka juga berhak menciptakan berita untuk diri sendiri.
Berita tentang kebersamaan.
Berita tentang persaudaraan.
Dan pada Jumat, 21 Agustus 2026 itu, berita tersebut ditulis bukan dengan tinta dan kamera, melainkan dengan tawa, peluh, tepuk tangan, serta kenangan yang kemungkinan besar akan kembali diceritakan ketika lomba HUT RI IJP Lampung digelar tahun depan. (*)






