Rakernas I APTISI Jadi Tonggak Kebangkitan PTS Menuju Indonesia Emas 2045

PTS Bersatu, Sinergi Nasional Diperkuat dari Lampung

BANDAR LAMPUNG — Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) di Hotel Grand Mercure, Bandar Lampung, Minggu (23/8/2026), menjadi momentum penting memperkuat persatuan perguruan tinggi swasta (PTS) sekaligus menegaskan kontribusinya menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045.

Rakernas yang diikuti sekitar 500 peserta dari 34 provinsi tersebut dibuka Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. Dalam sambutannya, ia menegaskan pemerintah tengah mendorong arah baru pendidikan tinggi, termasuk membuka peluang lebih besar bagi lulusan PTS untuk berkiprah di tingkat global.

“Program lulusan perguruan tinggi langsung ke luar negeri sampai 300 ribu orang akan menjadi daya tarik besar bagi PTS,” tegas Brian.

Menurutnya, peningkatan kualitas lulusan harus dibarengi sertifikasi keahlian. Pemerintah juga menyiapkan skema pembiayaan agar akses pendidikan tinggi semakin terbuka.

“Biaya pendidikan memang lebih tinggi, tapi kami akan melibatkan perbankan untuk membantu pembiayaan melalui asuransi pendidikan yang ringan bagi calon mahasiswa,” ujarnya.

Brian memberikan apresiasi terhadap kiprah APTISI dalam memperjuangkan kemajuan PTS. Ia juga mendorong pemerintah daerah ikut memberikan dukungan terhadap lulusan PTS.

“Alhamdulillah semua dimulai oleh APTISI. Saya akan mengimbau kepala daerah untuk bekerja sama membantu lulusan PTS. Selamat Rakernas, terima kasih atas pengabdian dan kontribusinya,” katanya.

PTS Tak Boleh Jadi Pelengkap

Anggota Komisi X DPR RI Prof. Dr. Furtasan Ali, S.E., S.Kom., M.M. menegaskan komitmen parlemen memperjuangkan kepentingan PTS, termasuk melalui pembahasan RUU Sisdiknas.

Ia menilai regulasi pendidikan nasional harus memberikan kepastian dan keberpihakan yang lebih kuat kepada PTS.

“PTS tidak boleh terus dipandang sebagai pelengkap. Dengan adanya BPOPTS, kita ingin ada kepastian regulasi dan dukungan yang setara dengan PTN,” tegasnya.

Furtasan menambahkan, posisi PTS sangat strategis karena menampung sebagian besar mahasiswa Indonesia. Karena itu, regulasi pendidikan nasional harus memberikan ruang afirmasi yang jelas.

“Lebih dari 60 persen mahasiswa Indonesia ada di PTS. Jadi UU Sisdiknas harus benar-benar menguntungkan PTS, bukan sekadar formalitas,” ujarnya.

Kampus Berdampak Menuju 2045

Ketua Umum APTISI Pusat Prof. Dr. Ir. H. M. Budi Djatmiko, M.Si. menekankan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan lulusan dalam membangun kampus yang berdampak bagi masyarakat.

“Sinergi kampus dan lulusan akan mewujudkan kampus berdampak menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.

APTISI juga menyiapkan langkah strategis dengan mendirikan sekolah kepemimpinan perguruan tinggi sebagai wadah mencetak pemimpin akademik yang visioner.

“Kami akan mendirikan sekolah kepemimpinan perguruan tinggi, sebagai wadah mencetak pemimpin akademik yang visioner,” ujar Budi.

Ketua OC Rakernas I APTISI sekaligus Ketua APTISI Lampung Dr. Ir. Firmansyah Y.A. Alfian, MBA., M.Sc. mengatakan terpilihnya Lampung sebagai tuan rumah menjadi momentum bersejarah bagi kebangkitan PTS.

“Lampung menjadi tuan rumah Rakernas I, semoga ini titik awal kebangkitan PTS di Indonesia,” ujarnya.

Firmansyah menegaskan kekuatan utama PTS terletak pada persatuan dan soliditas. Dengan jumlah PTS yang mencapai lebih dari 4.000 perguruan tinggi, pemerintah dinilai perlu memberikan perhatian yang proporsional.

“Kalau kita mau maju syaratnya harus bersatu. Pemerintah wajib memberi perhatian cukup bagi PTS,” tegasnya.

PTS Didorong Perkuat SDM dan Pembangunan

Menko Bidang Pangan Dr. (HC) Zulkifli Hasan, S.E., M.M. dalam kesempatan tersebut menyoroti pentingnya keberpihakan terhadap petani sebagai bagian dari perjuangan mewujudkan swasembada pangan.

“160 juta petani di Indonesia harus terhormat dan kita harus berpihak pada mereka. Tidak boleh ada tawar-menawar,” tegas Zulhas.

Ia juga memaparkan sejumlah capaian penyederhanaan regulasi sektor pangan. “Selama 22 bulan saya selesaikan 35 regulasi, 145 aturan menjadi 3. Dampaknya pupuk terserap 9,5 juta ton, naik 58 persen dari tahun sebelumnya,” jelasnya.

Sementara itu, Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata Zita Anjani, S.Sos., M.Sc. menegaskan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam pengembangan sektor pariwisata, terutama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

“Semua potensi pariwisata tidak ada artinya jika tidak ada peran perguruan tinggi untuk meningkatkan SDM dalam pengelolaan wisata,” katanya.

Zita juga mengapresiasi kekompakan APTISI dalam memperjuangkan PTS dan berharap perhatian pemerintah terhadap perguruan tinggi swasta semakin besar.

Rakernas I APTISI turut dihadiri Anggota Komisi X DPR RI Rycko Menoza, Sekdaprov Lampung Dr. Marindo Kurniawan, sejumlah pimpinan perguruan tinggi serta ratusan peserta dari berbagai daerah.

Dari Lampung, Rakernas I APTISI membawa pesan kuat: PTS harus bersatu, mendapat dukungan regulasi yang setara, memperkuat kualitas SDM, dan menjadi kekuatan strategis dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *