ARI PAHALA BONGKAR RAHASIA PUISI YANG BAIK

Peserta Bengkel Sastra 2026 Diajak Memahami Teori Eliot hingga Mengasah Daya Pukau Puisi

BANDAR LAMPUNG – Menjadi penyair bukan sekadar merangkai kata. Puisi yang baik membutuhkan logika, daya pukau, citraan, metafora, serta fondasi pengetahuan sastra yang kuat.

Pesan itu disampaikan penyair sekaligus sutradara teater Ari Pahala Hutabarat saat menjadi pemateri Bengkel Sastra 2026 di Villa Dangau Kedaung, Bandar Lampung, Kamis (27/8/2026).

Peraih Kusala 2026 melalui buku puisi Nusantara, Amnesia itu membedah sejumlah prinsip kepenyairan, termasuk pemikiran T.S. Eliot, nobelis sastra dunia, khususnya teori Objective Correlative atau korelasi objektif.

Di hadapan 20 peserta hasil kurasi, Ari tidak hanya menyampaikan teori dasar penulisan puisi. Ia juga membongkar dan mengulas kembali karya peserta untuk membantu mereka menemukan bentuk puisi yang lebih kuat.

“Puisi yang baik harus selaras dengan logika, menawarkan daya pukau bagi pembaca,” ujar Ari yang juga dikenal sebagai sutradara teater di Komunitas Berkat Yakin (KoBer) Lampung.

Menurutnya, materi yang diberikan merupakan dasar penting yang kelak menjadi fondasi bagi perjalanan peserta sebagai penyair. Salah satunya mengenai daya guna imajeri atau citraan dan metafora dalam puisi.

“Materi yang tadi saya beri adalah materi-materi dasar yang sangat penting dan akan menjadi fondasi kepenyairan mereka kelak, misalnya soal daya guna imajeri/citraan dan metafora dalam puisi,” katanya.

Regenerasi Sastra Menggembirakan

Ari juga memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Bengkel Sastra 2026 yang ditaja Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS bekerja sama dengan Badan Bahasa RI.

Ia menilai kegiatan tersebut menunjukkan perkembangan menggembirakan dalam ekosistem sastra Lampung, terutama dari sisi regenerasi penulis.

Menurut Ari, hal itu terlihat dari jumlah peserta, keberagaman latar belakang, serta kekayaan tema yang muncul dalam karya-karya mereka.

“Juga banyaknya peserta yang sungguh berbakat untuk jadi penyair yang baik di masa depan,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan semacam ini terus berkembang sehingga ekosistem sastra di Lampung semakin sehat dan mampu melahirkan generasi penyair baru.

Antusiasme peserta terlihat ketika mereka diminta merangkum kembali materi yang telah disampaikan. Sejumlah peserta bahkan mampu menjelaskan pokok materi di hadapan rekan-rekannya, menunjukkan bahwa materi yang diberikan dapat dipahami dengan baik.

Banyak Membaca, Jangan Jadi Penyair ‘Sampah’

Pada bagian akhir, Ari memberikan pesan sederhana tetapi tegas kepada calon penyair muda: banyak membaca.

Ia mendorong peserta memperbanyak bacaan, terutama karya penyair besar Indonesia maupun dunia. Untuk khazanah Indonesia, ia merekomendasikan karya Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM, Afrizal Malna, dan penyair penting lainnya.

Ari juga menyarankan peserta membaca karya penyair dunia, terutama mereka yang pernah menerima Nobel Sastra.

“Jangan sampai, seperti pepatah jika yang kau makan sampah maka yang keluar adalah sampah. Tak ada orang yang kencing tanpa pernah meminum,” tandasnya.

Bengkel Sastra 2026 yang berlangsung sejak 25 Agustus dijadwalkan berakhir Jumat (28/8/2026). Sebelum penutupan oleh Direktur Lamban Sastra, Fitri Angraini, kegiatan menghadirkan akademisi Prodi Bahasa Lampung Yinda Dwi Gustiara dengan materi tentang alih bahasa. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *