Ketua Sikambara Tegaskan Kaos dari Manajemen Bhayangkara Presisi Lampung FC Diberikan untuk Dipakai Nonton
BANDAR LAMPUNG — Ketua Sikambara, Junaedi, mengingatkan seluruh anggota untuk menjaga nama baik organisasi menyusul munculnya informasi mengenai dugaan penjualan jersey Bhayangkara Presisi Lampung FC melalui media sosial.
Junaedi yang juga menjabat Ketua Pajero Indonesia One (PI1) Chapter Krakatau dan CEO Rumah Makan Minang Indah Group, meminta seluruh anggota Sikambara tidak melakukan tindakan yang dapat mencoreng kepercayaan maupun hubungan baik yang telah terbangun dengan manajemen klub.
Pernyataan tersebut disampaikan Junaedi dalam percakapan grup Sikambara pada Senin malam (31/8/2026), setelah sejumlah anggota membagikan informasi mengenai jersey yang diduga diperjualbelikan melalui media sosial dan marketplace.
“Kalo ada oknum Sikambara yang terbukti jual, info ke saya yaa,” ujar Junaedi.
Ia kemudian menegaskan kepada seluruh anggota bahwa jersey yang diberikan manajemen Bhayangkara Presisi Lampung FC memiliki tujuan khusus, yakni untuk digunakan anggota saat menyaksikan pertandingan, bukan untuk diperjualbelikan.
“Tolong buat semua rekan-rekan Sikambara jaga nama baik organisasi ya. Pasti ketahuan, apalagi jual seperti di medsos gitu. Kaos diberikan oleh manajemen Bhayangkara Presisi Lampung FC buat dipakai nonton, bukan untuk dijual belikan,” tegas Junaedi.
DIMINTA JAGA KEPERCAYAAN
Imbauan tersebut mendapat respons dari sejumlah anggota Sikambara. Beberapa anggota menyatakan jersey yang mereka terima digunakan untuk berbagai aktivitas sebagai bentuk dukungan terhadap klub.
Salah seorang anggota, Helmi Fauzi, misalnya, menyampaikan bahwa jersey yang diterimanya digunakan dalam berbagai kegiatan, termasuk saat berada di kantor dan kegiatan jalan-jalan.
“Beli dua jersey dan punya KTA dipakai saat jalan-jalan pagi hingga tamasya ke Bandung. Biar fans Persib tahu ada kok jersey Bhayangkara yang keren punya,” tulisnya dalam grup.
Anggota lainnya juga menyampaikan bahwa jersey yang diterima digunakan secara pribadi maupun diberikan kepada keluarga.
Di tengah percakapan tersebut, sejumlah anggota mengaku menemukan jersey serupa ditawarkan melalui media sosial dan marketplace. Namun, identitas pihak yang menjual serta keterkaitannya dengan anggota Sikambara belum dipastikan.
Junaedi pun meminta persoalan tersebut tidak berkembang menjadi tuduhan tanpa dasar.
MARWAH ORGANISASI DIUTAMAKAN
Sebagai pimpinan komunitas, Junaedi menekankan pentingnya menjaga kepercayaan dan nama baik Sikambara. Menurutnya, persoalan tersebut bukan semata-mata menyangkut nilai ekonomi sebuah jersey, tetapi lebih kepada etika dan komitmen anggota terhadap organisasi serta klub yang telah memberikan dukungan.
Sikambara selama ini dikenal sebagai komunitas yang aktif membangun kebersamaan dan mendukung kegiatan olahraga, termasuk Bhayangkara Presisi Lampung FC.
Karena itu, Junaedi meminta seluruh anggota memahami tujuan pemberian jersey dan tidak memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi yang berpotensi menimbulkan persoalan.
“Jaga nama baik organisasi,” pesan Junaedi kepada seluruh anggota.
Sementara itu, terkait adanya jersey yang ditawarkan di media sosial maupun marketplace, Sikambara belum menyebut secara resmi siapa pihak yang menjual. Organisasi juga belum menyampaikan sanksi terhadap anggota tertentu karena belum ada konfirmasi mengenai identitas dan status penjual.
Sikambara menegaskan semangat kebersamaan, sportivitas, dan dukungan kepada klub harus tetap menjadi prioritas. (*)






