Bird Watching Berdayakan Desa, Tekan Konflik Satwa
LAMPUNG TIMUR — Taman Nasional Way Kambas (TNWK) memasuki babak baru pengembangan ekowisata. Kawasan konservasi yang selama ini lekat dengan ikon gajah Sumatra kini mulai memperluas daya tariknya melalui wisata minat khusus pengamatan burung (bird watching) yang digerakkan masyarakat desa penyangga.
Model baru ini tidak sekadar menawarkan pengalaman wisata alam. Di balik aktivitas mengamati avifauna, warga membangun sumber ekonomi alternatif, mengembangkan UMKM, memulihkan habitat, sekaligus mendorong perubahan pola pikir masyarakat agar tidak lagi bergantung pada aktivitas yang berpotensi merusak kawasan hutan.
Geliat tersebut salah satunya digerakkan Koperasi Plangijo Dewi Rasa dari Desa Labuhan Ratu IX, Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur. Koperasi beranggotakan 32 warga itu memilih mengembangkan paket bird watching dan susur sungai di koridor perairan hutan.
Ketua Koperasi Plangijo Dewi Rasa, Arif Lukman Fauzun, mengatakan pilihan mengembangkan wisata burung merupakan strategi untuk menciptakan segmen wisata baru tanpa berhadapan langsung dengan pengelola wisata yang telah menggunakan gajah sebagai daya tarik utama.
“Kami memang agak keluar dari zona nyaman. Kalau Way Kambas kan jualannya biasanya gajah, enggak jauh dari gajah. Nah, kami memilih untuk fokusnya di konservasi burung supaya dalam tanda kutip kami tidak bersaing dengan teman-teman yang lain yang sudah pakai branding gajah,” kata Arif.
Strategi tersebut justru membuka pasar wisatawan minat khusus dari berbagai negara. Periode Juni hingga September menjadi momentum penting karena komunitas pengamat burung melakukan perjalanan panjang ke berbagai destinasi di Indonesia.
“Ternyata malah segmentasinya on target. Akhirnya ketemulah dengan komunitas-komunitas pengamat burung yang mereka memang setiap musim panas berkeliling di Indonesia. Kami di Juni sampai September tingkat kunjungan untuk pengunjung yang fokus di pengamatan burung itu paling tinggi,” ungkapnya.
Way Kambas bahkan menjadi salah satu titik dalam rute perjalanan pengamat burung yang menjelajahi berbagai wilayah Indonesia sebelum melanjutkan perjalanan ke negara lain di Asia Tenggara.
Pengembangan ekowisata juga diperluas melalui kolaborasi lintas desa. Paket yang ditawarkan tidak berhenti di kawasan TNWK, tetapi mencakup susur sungai di Way Kanan, Way Bungur, Labuhan Ratu VII di kawasan Margahayu, hingga Desa Braja Harjosari.
DESA RAMAH BURUNG
Bagi Koperasi Plangijo Dewi Rasa, wisata bukan tujuan akhir. Program tersebut ditempatkan dalam payung besar “Desa Ramah Burung”, dengan kegiatan berupa sosialisasi konservasi, penyadartahuan masyarakat, penanaman pohon hingga adopsi sarang burung.
Arif mengatakan, orientasi tersebut diarahkan untuk mengubah hubungan masyarakat dengan kawasan hutan.
“Kami pengin punya dampak di luar koperasi. Makanya kami ini payung besarnya sebenarnya tidak wisata, tapi program Desa Ramah Burung. Di situ ada kegiatan sosialisasi, penyadartahuan, penanaman pohon, dan adopsi sarang burung,” jelasnya.
Perubahan mindset menjadi salah satu target utama. Warga yang sebelumnya menjadikan kawasan hutan sebagai tempat mencari penghasilan melalui aktivitas yang berisiko terhadap kelestarian kawasan, didorong memiliki alternatif ekonomi melalui kegiatan legal dan berkelanjutan.
“Khususnya dampaknya adalah perubahan mindset yang tadinya mungkin Way Kambas itu sebagai tempat untuk mencari ekonomi negatif, kita pengin beberapa orang itu sudah enggak masuk lagi ke Way Kambas. Itu memang berat, tapi kami punya visinya ke arah situ,” tutur Arif.
Manfaat ekonomi kemudian diputar kembali ke masyarakat. Sisa hasil usaha koperasi dialokasikan untuk kas sosial desa, peningkatan kapasitas masyarakat lokal dan anggota Kelompok Tani Hutan (KTH).
Paket wisata juga terhubung dengan produk UMKM desa, mulai dodol nanas, kerajinan sabut kelapa berbentuk satwa, produk rajut hingga berbagai suvenir. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya menikmati alam, tetapi turut menggerakkan rantai ekonomi masyarakat sekitar kawasan konservasi.
PEMKAB DUKUNG EKOWISATA
Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah mengapresiasi inisiatif masyarakat desa penyangga yang mengembangkan ekonomi berbasis kelestarian lingkungan.
“Inisiatif desa penyangga yang mengembangkan wisata minat khusus ramah burung ini adalah bukti bahwa masyarakat bisa berdaya tanpa harus merusak hutan. Pemerintah Kabupaten Lampung Timur berkomitmen penuh mendukung penguatan UMKM desa dan promosi ekowisata berkelanjutan agar manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh warga lingkar Way Kambas,” ujar Ela.
Dukungan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan ekowisata mulai ditempatkan sebagai bagian dari strategi pemberdayaan masyarakat sekaligus konservasi.
Sebab, semakin kuat alternatif ekonomi masyarakat desa penyangga, semakin terbuka peluang untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya kawasan hutan.
EKOWISATA JADI BENTENG KONFLIK GAJAH
Keterkaitan ekonomi masyarakat dan perlindungan satwa juga menjadi perhatian Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatra di TNWK, Brigjen TNI Sriyanto.
Menurutnya, kondisi sosial ekonomi masyarakat di perbatasan kawasan konservasi merupakan faktor penting dalam upaya perlindungan habitat dan mitigasi interaksi negatif manusia dengan satwa liar.
“Upaya mitigasi interaksi negatif gajah dan perlindungan satwa di Way Kambas tidak bisa dipisahkan dari kondisi ekonomi warga di perbatasan. Ketika masyarakat memiliki alternatif pendapatan yang sah lewat ekowisata dan pengamatan alam, ketergantungan merambah hutan berkurang drastis,” tegas Sriyanto.
Ia menilai tumbuhnya rasa memiliki masyarakat terhadap kawasan konservasi dapat menjadi bagian dari upaya mencegah konflik satwa.
“Rasa memiliki terhadap kawasan hutan pun tumbuh alami menjadi benteng pencegah konflik satwa,” lanjutnya.
SIAP HADAPI TATA KELOLA BARU
Menghadapi rencana tata kelola masa depan TNWK, termasuk wacana pembentukan Badan Layanan Umum (BLU), pengelola wisata desa mulai memperkuat kapasitas sumber daya manusia.
Salah satunya melalui sertifikasi pemandu lokal agar masyarakat memiliki standar kompetensi dan legalitas yang lebih kuat ketika nantinya terbuka ruang kolaborasi dengan pengelola kawasan.
“Secara mindset, secara visi ke depan kami terbuka untuk potensi kolaborasi antara pengelola BLU dengan kami desa penyangga. Dari sisi menyiapkan potensi itu, kami harus punya nilai tawar yang dipersiapkan, salah satunya sertifikasi pemandu,” kata Arif.
Menurut dia, dukungan sejumlah organisasi nonpemerintah yang bergerak di bidang konservasi burung turut membantu proses peningkatan kapasitas pemandu lokal.
Arif menargetkan pemandu wisata koperasi telah mengantongi sertifikasi pada akhir tahun.
“Kalau nanti pengelolaan baru di Way Kambas melibatkan masyarakat, sistem kerja dan pola wisata yang sudah kami bangun ini siap dibahas bareng untuk lebur menjadi satu,” pungkasnya.
Transformasi ekowisata Way Kambas pun mulai memperlihatkan pola baru: konservasi tidak berdiri sendiri, tetapi berjalan bersama pemberdayaan desa, penguatan UMKM, wisata minat khusus, dan mitigasi konflik manusia dengan satwa. (*).






