Disapa dan Dibantu Menko Pangan Zulhas, Anak Pemulung Putus Sekolah Korban Perundungan Janji akan Rajin Sekolah Biar Jadi Guru

Bandarlampung – Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Zulkifli Hasan turut peduli terhadap Gina Dwi Sartika (16), siswi SMPN 13 Bandarlampung yang memilih berhenti sekolah karena merasa minder.

Zulhas, -pemilik panggilan akrab Menko Pangan- kemarin, Minggu (26/10) menyapa Gina yang mengaku terpaksa memilih berhenti sekolah karena tak kuat mendengar ejekan teman-temannya terkait pekerjaan ibunya yang seorang pemulung.

Zulhas melalui video call langsung ke Gina meminta Gina agar tetap rajin sekolah meski harus membantu ibunya bekerja.

Kepada Gina dan Ibunya, tokoh Lampung yang kini Menko Pangan dan pernah menjadi Ketua MPR RI, Menteri Kehutanan dan Menteri Perdagangan ini akan membantu agar pendidikan Gina untuk mewujudkan cita-citanya yang ingin menjadi guru atau perawat tercapai.

“Cita-cita Ananda Gina sangat mulia pengin jadi guru atau perawat. Artinya Anana Gina ingin jadi orang yang bermanfaat bagi sesama, sungguh sangat mulia. Karena itu belajar sungguh-sungguh, soal biaya saya akan bantu biar Ananda Gina bisa sekolah setinggi-tingginya mewujudkan cita-citamu,” kata Zulhas kepada Gina.

Sambil matanya berkaca-kaca Gina menyampaikan terimakasih dan mengaku terharu atas kepedulian Menko Pangan Zulhas tersebut. “Terima kasih Pak atas bantuanya. Semoga Bapak sehat selalu,” jawab Gina pendek.

Gina pun berjanji akan tambah rajin belajar maski sambal bekerja membantu mencari nafkah keluarganya. Dia juga mengaku tak ada masalah dengan proses pembelajaranya yang kini dijalani yakni mengambil paket B, yaitu program pendidikan kesetaraan yang setara dengan SMP.

“Banyak orang baik yang membantu dan peduli pada saya dan keluarga. Makanya saya tambah semangat, rajin belajar dan kerja agar cita-cita saya mau jadi guru atau perawat bisa kesampaian. Mau dibilang orang tua saya tukang rongsok, masa bodoh, gak masalah lagi,” kata Gina, Minggu (2610).

Gina lalu bercerita masa lalunya bahwa olokan yang datang bertubi-tubi membuatnya kehilangan kepercayaan diri. Lalu Gina sempat bolos selama lebih dari seminggu, hingga akhirnya memutuskan berhenti sekolah. “Waktu itu saya kelas VIII. Malu sama teman-teman karna ya tadi diolok-olok,” ujarnya mengenang.

Ibunya, Misna Megawati (42), kemarin mengaku bersyukur banyak pihak peduli. “Moga saja Gina dan adik-adiknya benar bisa mewujudkan cita-citanya karna banyak orang yang mau membantu,” kata Misna.

Sementara itu, Kepala SMPN 13 Bandarlampung, Amaroh, membantah kabar bahwa Gina berhenti karena perundungan di sekolah. “Tidak ada perundungan. Gina sendiri yang minta berhenti dan pindah,” jelas Amaroh.

Lalu siapa Gina dan keluarganya sesungguhnya yang belakangan viral video tentang mereka. Pada video yang beredar disebutkan, Gina berhenti sekolah setelah di-bully oleh teman-temannya di SMPN 13 Bandarlampung, dan sudah dibantah oleh Kepala Sekolahnya bahwa tidak ada perundungan yang menimpa Gina.

Koran Editor, Minggu (26/10) mengunjungi tempat tinggal keluarga Gina di kawasan belakang SMKN 8 Bandarlampung. Meski dekat dengan Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung, ternyata secara administratif rumah bata merah berukuran sekitar 6 x 8 M milik Pak Darwis yang disewanya tersebut masuk wilayah Kabupaten Pesawaran.

Misna, ibu Gina menerangkan rumah yang disewanya per tahun Rp1,5 juta tersebut dihuni 7 (tujuh) jiwa, dirinya dan 6 (enam) anaknya. Keenam anaknya itu adalah Romi (19) putus sekolah SD, Gina (18) kini paket B. Lalu Rino (15) putus sekolah kelas 3 SD, Pasha (13) kini mondo di kawasan Kaliawi, Putri Agustina (11) kelas 6 SD dan Gibran (6) belum sekolah.

Tidak gampang untuk menemukan tempat tinggal Gina yang ternyata jauh dari komplek SMPN 13 Bandarlampung, tempat Gina bersekolah dulu. Editor beruntung bisa bertemu dengan seorang anak bernama Tegar di depan SMPN 13 Bandarlampung, yang ternyata teman Pasha yang kemudian menuntun Editor sampai ke lokasi yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Medannya lumayan sulit karena jalan setapak yang menurun curam dan licin karena kebetulan seusai hujan.

Sesuai keterangan Misna, bahwa sejak kecil Gina tinggal bersama adiknya. Gina pun oleh bibinya disekolahkan seperti anak pada umumnya. Bibinya mengasuh Gina karena sudah lama menikah tapi belum memiliki anak. Gina diasuh sebagai pancingan dan si Bibi pun akhirnya memiliki anak. Bibi Gina yang selama ini mengasuhnya tiga tahun lalu meninggal dunia.

Misna dan anak-anaknya tidak punya rumah. Mereka pindah-pindah mengontrak. Selama beberapa lama mereka tinggal di sebuah rumah di sekitar Pasar Tamin, Kaliawi, Bandarlampung yang biaya sewanya Rp600 ribu sebulan. Karena merasa berat, mereka pindah ke rumah yang ditempati saat ini. Sewanya lebih murah, Rp1,5 juta atau Rp125 ribu sebulan.

Sebagai warga Bandarlampung, ibu Gina mencari nafkah di kota tapis berseri ini. Ibu Gina menghidupi keluarganya dengan memulung plastik, kertas, rongsokan dan sejenisnya. Anak-anaknya sering ikut membantu. Setiap hari mereka berjalan kaki menyusuri kawasan Kemiling dan sekitarnya untuk mengumpulkan kardus, botol mineral dan lainya. Kardus-kardus, botol mineral bekas itu dibawa pulang, dirapikan, ditumpuk di pekarangan hingga ke dalam rumah yang beberapa hari sekali dibeli pengepul yang datang ke rumahnya.

Gina dan keluarganya adalah potret nyata keluarga miskin. Karena miskin, hidup mereka serba susah. Susah untuk sekadar bisa makan, susah untuk tinggal di tempat yang layak dan juga susah untuk bisa sekolah. Hebatnya, meski miskin, mereka tidak menyerah kepada takdir dan mereka tetap bekerja untuk menyambung hidup, dan pantang mengemis. (spt).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *