Bandarlampung — Siang di Panti Asuhan Kasih Nusantara, Way Dadi Baru, Kamis (5/2/2026), terasa berbeda. Bukan hanya karena matahari yang terik, melainkan karena kehangatan yang lahir dari perjumpaan sederhana: tawa anak-anak Papua, jabat tangan, dan cerita tentang rindu kampung halaman. Hari itu, rombongan Direktorat Pembinaan Masyarakat (Ditbinmas) Polda Lampung datang bukan sekadar menjalankan tugas, melainkan membawa pelukan dan harapan.
Halaman panti seketika dipenuhi suara ceria. Anak-anak yang mayoritas berasal dari wilayah pegunungan Papua menyambut tamu dengan mata berbinar. Di tempat sederhana itulah, rasa kekeluargaan tumbuh tanpa sekat pangkat dan jabatan.
Ketua Yayasan Kasih Nusantara, Pdt Murniman Zendrato, membuka pertemuan dengan kisah perjalanan panti yang berdiri sejak 2007. Sekitar 35 anak asuh, katanya, menjalani pendidikan melalui sekolah formal dan homeschooling, bertahan dari uluran tangan para sukarelawan.
“Kami hidup dari kepedulian orang-orang yang datang dengan ketulusan,” tutur Murniman, sembari menyampaikan terima kasih atas kehadiran Ditbinmas Polda Lampung yang meluangkan waktu menyapa anak-anak.
Di hadapan mereka, Direktur Binmas Polda Lampung Kombespol A.F. Indra Napitupulu berdiri dengan nada suara yang lebih personal. Ia memperkenalkan diri bukan hanya sebagai perwira polisi, tetapi sebagai seseorang yang pernah menghabiskan hampir delapan tahun hidup di Papua.
“Saya sengaja datang bertemu kalian, karena Papua selalu punya tempat khusus di hati saya,” ujarnya. Kalimat sederhana itu seketika mengubah suasana—seperti seorang keluarga yang pulang setelah lama berpisah.
Kenangan tentang Papua mengalir dalam setiap pesannya. Indra berbicara tentang kekayaan alam yang luar biasa, tentang masyarakat yang hangat, sekaligus tentang tantangan pendidikan yang masih membelit banyak anak di tanah timur Indonesia.
“Belajarlah sungguh-sungguh, kejarlah cita-cita setinggi mungkin. Kelak, ketika kalian kembali, Papua membutuhkan kalian untuk maju,” katanya, menatap wajah-wajah muda yang menyimak dengan penuh harap.
Pesan itu dilengkapi nasihat sederhana namun tegas: menjaga diri, menjaga lingkungan, dan menjauhi hal-hal yang merusak masa depan. Ia mengingatkan pentingnya menjauhi miras, narkoba, perjudian, serta segala bentuk perilaku yang dapat menyeret generasi muda ke jalan gelap.
“Jaga kamtibmas di sekitar kalian. Masa depan besar selalu dimulai dari pilihan-pilihan kecil hari ini,” ucapnya, sebelum menutup dengan ajakan untuk tekun belajar dan selalu mengingat Tuhan dalam setiap langkah.
Silaturahmi berakhir dengan doa bersama dan obrolan ringan. Namun bagi anak-anak Papua di Panti Asuhan Kasih Nusantara, siang itu meninggalkan kesan mendalam. Kunjungan tersebut bukan sekadar agenda pembinaan masyarakat, melainkan pengingat bahwa mereka tidak sendiri.
Dari Lampung, harapan itu dirangkul dan dikirimkan jauh—menuju Papua, tempat mimpi-mimpi besar suatu hari akan kembali pulang. (*)






