Pertama di Indonesia, Super Tucano dan F-16 Sukses Uji Coba di Ruas Trans Sumatera
MESUJI — Sejarah baru pertahanan nasional tercipta di ruas Tol Trans Sumatera, Lampung, Rabu. Untuk pertama kalinya di Indonesia, pesawat tempur TNI Angkatan Udara (TNI AU) mendarat dan lepas landas di jalan tol yang difungsikan sebagai landasan darurat.
Dua pesawat tempur, EMB-314 Super Tucano dan F-16 Fighting Falcon, sukses melakukan pendaratan dan take off dengan aman dan lancar. Uji coba ini dipantau langsung oleh Wakil Menteri Pertahanan Marskal Madya TNI (Purn) Donny Ermawan Taufanto bersama jajaran Kementerian Pertahanan, TNI AU, dan Kementerian Pekerjaan Umum.
“Dilaksanakan pada hari ini, ini untuk yang pertama kali ya, uji coba pendaratan pesawat tempur di jalan tol. Alhamdulillah, hari ini dapat kita laksanakan dengan aman dan lancar,” ujar Donny di lokasi.
Menurutnya, keberhasilan ini bukan sekadar demonstrasi kemampuan teknis, melainkan bagian dari strategi besar penguatan sistem pertahanan negara. Infrastruktur sipil, termasuk jalan tol, disiapkan agar dapat difungsikan sebagai landasan pacu alternatif dalam kondisi darurat.
“Kedua pesawat tempur yang diuji, Super Tucano dan F-16, dilaporkan dalam kondisi aman. Artinya, apa yang kita rencanakan berhasil dan berjalan sesuai skenario,” tegasnya.
Super Tucano dikenal sebagai pesawat turboprop andalan TNI AU untuk patroli udara, pengintaian, dan dukungan udara jarak dekat. Sementara F-16 merupakan pesawat tempur supersonik yang menjadi garda terdepan pertahanan udara nasional.
Tol Disiapkan Jadi Runway Darurat
Donny menegaskan, pemanfaatan jalan tol sebagai landasan darurat merupakan implementasi sistem pertahanan semesta yang melibatkan seluruh komponen bangsa.
“Ini adalah perwujudan sistem pertahanan semesta. Pertahanan negara bukan hanya urusan TNI, tetapi melibatkan kementerian, pengelola jalan tol, dan masyarakat yang hari ini bersedia mengalah menggunakan jalur alternatif,” katanya.
Ke depan, Kementerian Pertahanan telah menyiapkan peta jalan (roadmap) agar sejumlah ruas tol dan jalan nasional di berbagai wilayah Indonesia dapat dirancang dengan spesifikasi teknis tertentu sehingga memenuhi syarat sebagai runway darurat pesawat tempur.
Konsep ini dinilai krusial bagi negara kepulauan seperti Indonesia. Dengan banyak alternatif titik pendaratan, operasional pesawat tempur tetap dapat berjalan meski pangkalan udara utama mengalami gangguan atau serangan.
“Kita ingin di setiap pulau besar memiliki banyak alternatif pangkalan. Kalau satu pangkalan diserang, masih ada opsi lain. Karena itu, beberapa ruas jalan tol ke depan akan kita desain agar bisa difungsikan sebagai runway,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembangunan infrastruktur ke depan akan diselaraskan dengan kebutuhan pertahanan nasional melalui koordinasi intensif dengan Kementerian PUPR dan pengelola jalan tol.
“Ke depan, dalam pembangunan jalan tol, kita akan sesuaikan spesifikasinya agar memenuhi persyaratan sebagai runway. Ini bagian dari roadmap pertahanan nasional,” kata Donny.
Donny juga mengapresiasi profesionalisme penerbang TNI AU. Ia menyebut pendaratan di ruas tol memiliki tingkat risiko lebih tinggi dibandingkan di pangkalan udara.
“Lebar jalan tol hanya sekitar 24 meter, jauh lebih sempit dibanding runway bandara yang bisa 45 sampai 60 meter. Ini cukup riskan, tapi penerbang TNI AU sudah dilatih untuk kondisi sempit, dan hasilnya aman,” pungkasnya.
Keberhasilan uji coba ini menandai babak baru integrasi pembangunan infrastruktur dan strategi pertahanan, sekaligus menunjukkan kesiapsiagaan TNI AU menjaga kedaulatan udara di segala kondisi. (*).






