SEBULAN DI DESA, SEBULAN GAJI DIINFAKKAN

Aiptu Bambang Gerakkan Warga Bedah Rumah Dua Lansia Miskin Ekstrem

DI tengah rutinitas menjaga keamanan dan ketertiban, seorang Bhabinkamtibmas di pelosok Lampung Timur membuktikan bahwa seragam polisi juga bisa menjadi simbol kepedulian sosial.

Baru sebulan bertugas sebagai Bhabinkamtibmas Polsek Way Bungur di Desa Tegalombo, Kecamatan Way Bungur, Lampung Timur, Aiptu Bambang langsung dihadapkan pada persoalan kemanusiaan: dua lansia miskin ekstrem yang berulang kali gagal mendapat bantuan bedah rumah karena terkendala administrasi.

Kisah itu bermula saat Bambang menghadiri rapat BLT Dana Desa (DD) Khusus di Balai Desa Tegalombo. Dalam forum tersebut, dua nama diusulkan sebagai penerima bantuan bedah rumah senilai Rp10 juta, yakni Mbah Pairan (62) dan Mbah Solekan (78).

Namun suasana mendadak memanas. Sejumlah peserta rapat menolak usulan tersebut dengan alasan keduanya tidak memenuhi syarat administrasi dan tidak memiliki tanah atas nama pribadi. Padahal, nominal bantuan yang tersedia pun dinilai sangat minim untuk membangun rumah layak huni.

Ironisnya, pada 2025 lalu kedua lansia itu juga pernah diusulkan, tetapi kembali gagal karena terbentur aturan serupa.

Bambang tak tinggal diam. Ia meminta penjelasan lebih lanjut kepada aparat desa. Kepala Dusun 4 Marsin bersama anggota BPD Sunarya memaparkan kondisi riil keduanya yang tergolong miskin ekstrem dan sangat layak dibantu.

Bambang lalu mendatangi langsung kediaman Mbah Pairan. Ia mendapati pria renta itu hidup sebatang kara, menumpang di tanah milik keponakannya. Rumahnya jauh dari kata layak. Untuk bertahan hidup, ia memelihara empat ekor kambing.

Kondisi serupa dialami Mbah Solekan. Ia tinggal sendiri, menumpang di tanah milik saudaranya. Puluhan tahun keduanya hidup dalam keterbatasan, menggantungkan harapan pada bantuan tunai dan beras pemerintah.

Tak ingin aturan menjadi tembok penghalang kemanusiaan, Bambang menginisiasi musyawarah bersama kepala dusun, ketua RT, dan anggota BPD. Hasilnya, disepakati pembentukan panitia bedah rumah secara swadaya.

Warga sepakat bergotong royong membangun rumah untuk kedua lansia tersebut. Bambang pun didaulat menjadi ketua panitia.

Tak hanya menggerakkan masyarakat, ia juga turun tangan secara pribadi. Ia mendatangi rumah Mbah Pairan dengan membawa sembako, pakaian, serta perlengkapan salat. Bahkan, ia memanggil tukang cukur untuk merapikan rambut Mbah Pairan yang selama ini dipotong sendiri.

Semua bantuan itu, diakui Bambang, menggunakan dana pribadi dan dilakukan dengan ikhlas.

Sebagai bentuk komitmen nyata, ia juga menginfakkan satu bulan gajinya untuk mendukung pembangunan rumah tersebut.

Di Desa Tegalombo, pengabdian itu kini tak hanya dirasakan sebagai keamanan, tetapi juga sebagai kehangatan. Di balik seragam cokelatnya, Bambang mengajarkan satu hal sederhana: ketika aturan tak mampu menjangkau, gotong royong dan kepedulianlah yang menyempurnakan. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *