Anggota DPRD Lampung I Made Suarjaya, Sosok di Balik Festival Ogoh-Ogoh Seputih Raman

Lampung Tengah – Festival Ogoh-Ogoh di Kecamatan Seputih Raman, Kabupaten Lampung Tengah, yang kini menjadi tradisi tahunan menjelang Hari Raya Nyepi, ternyata memiliki sejarah panjang yang tidak lepas dari peran Anggota DPRD Provinsi Lampung dari Fraksi Partai Gerindra, I Made Suarjaya.

Tokoh yang dikenal sebagai aktivis Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Pengurus Daerah Lampung itu merupakan salah satu penggagas awal festival yang kini menjadi agenda budaya masyarakat tersebut.

Selain I Made Suarjaya, gagasan festival yang pertama kali digelar pada tahun 1999 itu juga diprakarsai oleh para aktivis KMHDI lainnya, di antaranya Ketut Sugina, Wayan Eko, Wayan Aryudi, serta sejumlah tokoh muda Hindu di Lampung.

Tidak hanya di tingkat kecamatan, I Made Suarjaya juga dikenal sebagai sosok yang menginisiasi parade atau festival Ogoh-Ogoh tingkat Provinsi Lampung. Kegiatan tersebut pertama kali digelar pada tahun 2008 di Lapangan Merah Bandar Lampung, yang kini menjadi kawasan Masjid Al Bakrie.

Festival Ogoh-Ogoh yang digelar setiap menjelang Hari Raya Nyepi itu bahkan pernah dihadiri sejumlah tokoh penting daerah, di antaranya mantan Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo serta PYM Suttan Skalabrak yg dipertuwn ke 23 Brigjen Pol (pur) Pangeran Edwarsyah Pernong, SH.

Namun pada awal kemunculannya, gagasan untuk memfestival-kan Ogoh-Ogoh sempat menuai penolakan. Sebagian pihak menilai Ogoh-Ogoh merupakan simbol sakral dalam tradisi Hindu sehingga tidak pantas dijadikan festival.

Meski demikian, para penggagas melihat potensi lain di balik Ogoh-Ogoh. Selain memiliki nilai religius, Ogoh-Ogoh dinilai dapat menjadi media ekspresi seni dan kreativitas generasi muda sekaligus sarana mempererat kebersamaan masyarakat.

Melalui berbagai dialog dan pendekatan kepada tokoh masyarakat, gagasan tersebut akhirnya dapat diterima. Festival Ogoh-Ogoh pertama di Seputih Raman pada 1999 digelar dengan memperebutkan Piala Bimas Hindu Provinsi Lampung yang saat itu dipimpin Kepala Bidang Bimas Hindu Provinsi Lampung, Made Suma.

Pembukaan festival dilakukan oleh Camat Seputih Raman saat itu, Loekman Hakim yang kemudian dikenal sebagai mantan Wali Kota Metro. Pengamanan kegiatan turut didukung Kapolsek Seputih Raman saat itu Ipda Faisol bersama unsur TNI dari Koramil setempat.

Festival perdana tersebut diikuti delapan peserta Ogoh-Ogoh dari berbagai kelompok pemuda desa, yakni Rama Dewa (RD) 1, Rama Dewa (RD) 2, Rama Dewa (RD) 4, Rama Gunawan (RG) dengan dua Ogoh-Ogoh, Rama Murti (RM) 1, serta Rukti Harjo (RH) 7 dan RH 4. Dalam festival pertama itu, Rukti Harjo (RH) 7 berhasil meraih juara.

Seiring waktu, festival ini berkembang pesat dan menjadi agenda budaya yang dinanti masyarakat setiap tahun. Tidak hanya masyarakat Bali, masyarakat umum bahkan dari luar daerah turut memadati lokasi festival.

Puncak partisipasi festival tercatat pada tahun 2015 dengan jumlah peserta mencapai 34 Ogoh-Ogoh. Saat itu kegiatan juga rutin dihadiri berbagai pejabat daerah mulai dari bupati, wakil bupati, kepala dinas hingga anggota DPRD serta pejabat pemerintah provinsi.

Namun setelah berkembang pesat, sejak 2015 kegiatan ini tidak lagi mendapatkan dukungan anggaran dari Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah. Akibatnya, kepanitiaan yang sebelumnya dikelola oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten tidak lagi berjalan seperti sebelumnya.

Meski demikian, semangat masyarakat untuk mempertahankan tradisi tidak pernah surut. Penyelenggaraan festival kemudian dilanjutkan oleh generasi muda melalui Perhimpunan Pemuda Hindu Dharma Indonesia (PERADAH) Lampung Tengah.

I Made Suarjaya, mengatakan Festival Ogoh-Ogoh Seputih Raman lahir dari semangat generasi muda Hindu untuk menjaga tradisi sekaligus memberi ruang kreativitas.

“Pada saat itu kami ingin generasi muda memiliki ruang untuk mengekspresikan seni budaya melalui Ogoh-Ogoh. Awalnya memang ada penolakan, tetapi melalui dialog akhirnya masyarakat bisa menerima dan festival ini bisa berjalan hingga sekarang,” ujar Made Suarjaya.

Ia menambahkan, keberadaan festival tersebut kini tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian perayaan Nyepi, tetapi juga telah berkembang menjadi agenda budaya yang memperkaya keragaman tradisi di Lampung.

“Festival ini bukan hanya milik umat Hindu, tetapi sudah menjadi bagian dari kekayaan budaya Lampung yang bisa dinikmati seluruh masyarakat,” tambahnya.

Tahun ini, Festival Ogoh-Ogoh Kecamatan Seputih Raman kembali digelar pada Minggu (8/3/2026) dengan melibatkan berbagai kelompok pemuda dari desa-desa setempat.

Sejarah panjang festival tersebut menjadi bukti bahwa tradisi besar sering lahir dari keberanian melawan keraguan serta komitmen masyarakat dalam menjaga nilai seni, budaya, dan kebersamaan lintas generasi. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *