DI USIA 16, MULTAZAM TUNAIKAN AMANAH HAJI ORANG TUA

Remaja Lampung Utara Jadi Jemaah Termuda, Kisah Haru dari Halaman Islamic Center Kotabumi

LAMPUNG UTARA — Pagi itu, halaman Islamic Center Kotabumi dipenuhi peluk haru dan doa lirih. Ratusan keluarga melepas orang-orang tercinta menuju perjalanan suci. Di antara kerumunan itu, berdiri seorang remaja dengan sorot mata tenang—Muhammad Multazam Nabil Assyaf, 16 tahun.

Di usianya yang masih belia, Multazam bukan sekadar jemaah calon haji termuda asal Lampung Utara tahun 2026. Ia membawa amanah besar—melanjutkan cita-cita orang tuanya yang telah tiada.

Berasal dari Desa Mulang Maya, Kecamatan Kotabumi Selatan, Multazam berangkat bersama sang ibunda, Fitri Maya. Kesempatan berhaji yang ia dapatkan bukan melalui antrean panjang, melainkan pelimpahan kursi haji dari orang tuanya—sebuah amanah yang kini ia pikul dengan kesadaran yang melampaui usianya.

“Ini bukan hanya perjalanan ibadah. Ini tentang melanjutkan cita-cita orang tua,” ujarnya lirih, menahan haru.

Sebagai pelajar di Pondok Pesantren Darul Hidayah Kemiling, Multazam terbiasa hidup dalam disiplin dan nilai-nilai keagamaan. Namun, perjalanan haji kali ini menjadi babak baru—ruang pembuktian bahwa bakti kepada orang tua tak terhenti oleh batas kehidupan.

Di tengah arus zaman yang kerap menyorot generasi muda dari sisi negatif, kisah Multazam hadir sebagai penyejuk. Ia menjadi cermin bahwa tanggung jawab, kesetiaan pada amanah, dan kedalaman spiritual masih tumbuh kuat di kalangan remaja.

Sebanyak 398 jemaah calon haji Lampung Utara dilepas langsung oleh Bupati Hamartoni Ahadis. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan proses pembentukan karakter.

“Haji adalah madrasah kehidupan—tempat belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan kebersamaan,” ujarnya.

Namun di balik seremoni resmi itu, kisah kecil seperti Multazam justru menyimpan makna besar. Ia berangkat bukan hanya untuk menunaikan rukun Islam, tetapi juga untuk menghadiahkan doa terbaik bagi orang tuanya.

Langkahnya mungkin ringan, tetapi makna yang dibawanya begitu dalam. Di usia yang masih sangat muda, Multazam mengajarkan satu hal sederhana namun sering terlupakan—bahwa kedewasaan bukan soal umur, melainkan keberanian memikul amanah hidup.

Pelepasan jemaah hari itu pun menjadi lebih dari sekadar keberangkatan. Ia menjelma menjadi kisah tentang harapan, tentang doa yang menjembatani rindu, dan tentang cinta yang tak pernah selesai, bahkan hingga ke Tanah Suci. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *