Lamban Sastra Isbedy Buka Kesempatan 20 Peserta, Karya Terbaik Dibukukan dalam Antologi Dwibahasa
Bandarlampung — Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi penulis muda melalui penyelenggaraan Bengkel Sastra yang akan berlangsung pada 24–27 Agustus 2026. Program yang menyasar siswa SMA, mahasiswa, dan komunitas sastra se-Lampung ini menjadi ruang pembinaan sekaligus wadah lahirnya karya-karya sastra baru dari Bumi Ruwa Jurai.
Kegiatan yang didukung Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI melalui Program Bantuan Pemerintah (Banpem) Tahun 2026 tersebut hanya akan memilih 20 peserta terbaik hasil proses kurasi.
Ketua Pelaksana Bengkel Sastra, Fitri Anggraini, mengatakan peserta akan mendapatkan pembekalan intensif mengenai dunia sastra, teknik menulis kreatif, hingga membangun jejaring dengan para sastrawan nasional.
“Melalui Bengkel Sastra ini mereka akan dikenalkan tentang sastra, cara menulis sastra, dan membangun jejaring,” ujar Fitri, Sabtu (11/7).
Menurutnya, para peserta akan dibimbing langsung oleh sastrawan nasional dari Jakarta maupun Lampung. Selain meningkatkan kemampuan menulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Lampung, peserta juga akan memperoleh pengalaman berkarya secara profesional.
Salah satu luaran penting dari kegiatan ini adalah diterbitkannya buku antologi puisi dwibahasa yang memuat karya para peserta dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Lampung.
Sementara itu, panitia Naya Anindya Putri menjelaskan pendaftaran telah dibuka sejak 10 hingga 30 Juli 2026. Proses kurasi berlangsung pada 2–8 Agustus, sedangkan pengumuman peserta terpilih dilakukan pada 10 Agustus 2026 melalui media sosial maupun pemberitahuan langsung kepada peserta.
Selama mengikuti kegiatan, peserta akan memperoleh fasilitas berupa akomodasi, konsumsi, uang transportasi, kaus kegiatan, serta berbagai kebutuhan penunjang lainnya.
Melalui program ini, Lamban Sastra Isbedy berharap lahir penulis-penulis muda yang mampu mengangkat kekayaan budaya dan bahasa daerah ke panggung sastra nasional, sekaligus memperkuat tradisi literasi di Provinsi Lampung. (*).






