AUMAN SINGA ATAU KOKOK AYAM?

Perebutan Juara Tiga Jadi Ajang Menebus Luka dan Menjaga Harga Diri

Oleh: Rozali Umar
Advokat, Penggemar Sepak Bola

Perebutan tempat ketiga Piala Dunia kerap dipandang sebagai laga pelipur lara. Namun bagi Inggris dan Prancis, duel Minggu dini hari bukan sekadar pertandingan formalitas. Di balik auman The Three Lions dan kokok Le Coq Gaulois, tersimpan pertaruhan harga diri dua raksasa sepak bola Eropa yang sama-sama gagal melangkah ke final.

Inggris datang membawa luka usai disingkirkan Argentina, sementara Prancis harus mengakui keunggulan Spanyol. Kekalahan di semifinal menjadi cambuk bagi Harry Kane dan Kylian Mbappe untuk membuktikan bahwa mereka masih pantas pulang dengan kepala tegak.

Sejarah mencatat kedua tim sudah 32 kali bertemu. Inggris lebih unggul dengan 17 kemenangan, sedangkan Prancis mengoleksi 10 kemenangan, dan lima laga berakhir imbang. Pertemuan ke-33 menjadi kesempatan memperpanjang dominasi sekaligus menghapus kekecewaan.

Pernyataan Kane yang mengakui timnya terlalu cepat bertahan setelah unggul, serta keluhan Mbappe soal buruknya performa Prancis, menunjukkan kedua kubu telah melakukan evaluasi. Tidak ada ruang mengulangi kesalahan yang sama. Singa maupun ayam jantan tentu enggan menjadi “keledai” yang jatuh di lubang yang sama.

Lebih dari sekadar medali perunggu dan hadiah jutaan dolar, laga ini menjadi ujian mental. Tim yang mampu bangkit dari kegagalan akan membawa pulang lebih dari sekadar kemenangan—yakni kepercayaan diri dan kebanggaan nasional.

Ketika peluit akhir berbunyi, hanya satu yang akan tersenyum. Apakah auman singa kembali menggetarkan Eropa, atau justru kokok ayam jantan yang menjadi penawar luka? Jawabannya akan hadir di atas lapangan, bukan dalam ramalan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *