MASYARAKAT BERBATASAN TNWK WAJIB WASPADA

JMSI Lampung Ingatkan Potensi Satwa Keluar Habitat, Minta Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan

BANDAR LAMPUNG — Kebakaran yang melanda kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) memicu kekhawatiran terhadap keselamatan ekosistem sekaligus masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi tersebut.

Pengurus Daerah (Pengda) Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Provinsi Lampung meminta masyarakat yang wilayahnya berbatasan langsung dengan TNWK meningkatkan kewaspadaan. Kepulan asap dan kebakaran yang mengganggu habitat berpotensi membuat satwa liar mencari lokasi perlindungan baru, termasuk mendekati permukiman penduduk.

Sekretaris JMSI Lampung, Anton Kurniawan, meminta pemerintah kabupaten/kota, camat, lurah, kepala lingkungan hingga ketua RT/RW yang wilayahnya berbatasan dengan TNWK segera meningkatkan kesiapsiagaan.

“Pemkab/Pemkot, Lurah, Lingkungan, RT/RW dan pihak terkait yang wilayahnya berbatasan dengan TNWK sudah harus mewaspadai kondisi ini dan mengambil langkah-langkah antisipasi agar tidak terjadi sesuatu yang merugikan banyak pihak, baik manusia maupun satwa itu sendiri,” ujar Anton, Minggu (23/8/2026).

Menurutnya, peningkatan kewaspadaan bukan untuk menciptakan kepanikan. Justru langkah tersebut diperlukan sebagai bentuk mitigasi apabila satwa liar keluar atau berpindah akibat habitatnya terganggu kebakaran.

JANGAN TANGANI SATWA SENDIRI

Anton juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil tindakan sendiri jika menemukan satwa liar memasuki permukiman.

Penanganan harus dikoordinasikan dengan petugas berwenang maupun pihak yang memiliki kompetensi dalam penanganan satwa liar. Hal tersebut penting untuk mencegah jatuhnya korban, baik dari masyarakat maupun satwa.

“Kita berharap masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan tindakan yang justru membahayakan diri sendiri maupun satwa. Jika ada satwa liar masuk permukiman, segera laporkan dan koordinasikan dengan pihak berwenang,” katanya.

JMSI Lampung juga berharap proses pemadaman kebakaran TNWK dapat segera dituntaskan sehingga api tidak meluas dan dampaknya terhadap ekosistem maupun masyarakat sekitar dapat diminimalkan.

“Sambil tetap berdoa agar upaya pemadaman ini dapat segera ditanggulangi,” ujar Anton.

KEAMANAN TNWK HARUS DIEVALUASI

Lebih jauh, Anton menilai kebakaran TNWK harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan dan keselamatan kawasan konservasi.

Menurut dia, ancaman kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau bukan fenomena baru. Polanya cenderung berulang sehingga semestinya dapat dipetakan dan diantisipasi sejak dini.

“Salah satu pelajaran dari peristiwa ini adalah aspek keamanan dan keselamatan harus menjadi perhatian serius dalam pengelolaan TNWK maupun taman nasional lainnya apabila terjadi kebakaran,” ujarnya.

Evaluasi, kata Anton, tidak cukup hanya menyangkut proses pemadaman. Sistem deteksi dini, pencegahan, kesiapsiagaan personel, pemantauan kawasan hingga pola evakuasi satwa juga perlu diperkuat.

Hal itu dinilai penting karena TNWK bukan hanya kawasan hutan, tetapi merupakan habitat berbagai satwa yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

RATUSAN HEKTARE JANGAN TERULANG

Anton menyayangkan apabila kebakaran yang semestinya dapat diantisipasi justru menyebabkan kerusakan dalam skala luas.

Kebakaran berpotensi menghanguskan vegetasi, merusak habitat dan mengganggu rantai kehidupan satwa yang selama ini menjadi bagian penting dari ekosistem TNWK.

“Peristiwa kemarau dengan dampaknya selalu berulang dan terdeteksi. Sangat disayangkan apabila sesuatu yang semestinya dapat dicegah dan diantisipasi justru mengakibatkan ratusan hektare lahan TNWK terbakar,” tegasnya.

Karena itu, JMSI Lampung mendorong penguatan koordinasi antara pengelola kawasan, pemerintah daerah, aparat, masyarakat serta pihak terkait lainnya.

Kewaspadaan masyarakat di wilayah perbatasan TNWK dinilai menjadi mata rantai penting dalam sistem mitigasi. Jika terjadi perubahan perilaku satwa atau ditemukan satwa liar keluar dari kawasan, informasi dapat segera diteruskan kepada petugas untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga dua kepentingan sekaligus: keselamatan masyarakat dan kelestarian satwa serta ekosistem TNWK. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *