PTS Dinilai Lebih Unggul, Kualitas PTN Disorot

BANDARLAMPUNG – Kualitas perguruan tinggi negeri (PTN) dan perguruan tinggi swasta (PTS) menjadi sorotan. Sejumlah kalangan menilai PTS kini tidak lagi layak dipandang sebagai pilihan kedua, bahkan dinilai mampu bersaing dan dalam aspek tertentu lebih unggul dibanding PTN.

Pengusaha muda dan pelopor petani milenial, I Ketut Kamajaya, secara terbuka menyatakan pandangannya bahwa PTS justru memiliki keunggulan tersendiri dalam menyiapkan lulusan yang sesuai kebutuhan dunia kerja.

“Menurut saya lebih bagus PTS daripada PTN. Bahkan saya setuju PTS bukan nomor dua, tapi kalau saya malah nomor satu, walaupun tidak semua,” ujar pemilik dan pengelola kebun Sahabat Hidroponik Lampung ini, Kamis (27/8/2026).

Penilaian tersebut, kata dia, bukan tanpa dasar. Ketut mengaku banyak berdiskusi dengan mahasiswa yang datang ke tempatnya, termasuk mahasiswa dari berbagai PTN di Lampung hingga Pulau Jawa.

“Saya banyak belajar dari mahasiswa yang datang ke tempat saya dan kita diskusi, PTN dari Lampung sampai Jawa. Kalau menurut saya, kualitasnya mengalami downgrade,” katanya.

Meski demikian, Alumni Program Studi D3 Agribisnis Politeknik Negeri Lampung (Polinela) ini menegaskan tidak seluruh PTS dapat digeneralisasi memiliki kualitas lebih baik. Menurutnya, tetap diperlukan evaluasi terhadap mutu masing-masing perguruan tinggi.

Pandangan senada disampaikan Ketua Pengda TP Sriwijaya Lampung, Nurhasanah, yang menilai persoalan kualitas PTN tidak terlepas dari beban dan fokus dosen yang semakin kompleks. Ia menyoroti kondisi ketika sebagian dosen lebih banyak berkonsentrasi pada penelitian dan aktivitas lain sehingga mahasiswa kesulitan mendapatkan pendampingan.

“Faktanya sekarang dosen-dosen di PTN banyak yang fokus penelitian di luar dan abai terhadap mahasiswa. Penelitian dan bantuan hibah memang bagus, tetapi jangan mengabaikan mahasiswa, terutama ketika mereka menyusun skripsi,” ujar Nurhasanah.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap mahasiswa, khususnya mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Biaya transportasi dan kebutuhan berulang ke kampus dapat menjadi beban tambahan.

Sementara pada PTS, kata dia, persaingan untuk menjaga mutu membuat institusi harus lebih serius mengejar kualitas, termasuk integritas, disiplin dan kompetensi mahasiswa.

“Kalau PTS, kita kejar kualitas. Integritas, disiplin dan kompetensi mahasiswa kita utamakan. Kita juga berpikir kasihan orang tuanya yang sudah susah payah mencari uang untuk kuliah anaknya,” katanya.

Namun, mantan Ketua DPRD Lampung ini mengingatkan tidak seluruh PTS otomatis memiliki mutu yang baik. Sebaliknya, PTN juga tetap memiliki banyak perguruan tinggi berkualitas yang harus dipertahankan.

Ketut kemudian mengingatkan bahwa dosen memiliki kewajiban menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

“Memang dosen mempunyai kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi. Selain mengajar, wajib penelitian dan pengabdian masyarakat. Namun memang realitanya tugas dosen sudah makin banyak dan beban semakin besar, sehingga tugas utama mengajar malah sedikit,” ujarnya.

Ia berharap kritik tersebut tidak dipandang sebagai upaya menyalahkan dosen maupun PTN, melainkan menjadi bahan evaluasi bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi.

“Memang perlu evaluasi dan masukan. Tidak benar kalau dosen itu selalu benar. Perlu juga kita beri masukan dan saran. Kita hanya bisa curhat, semoga bisa menjadi renungan,” pungkasnya.

Sorotan terhadap kualitas PTN dan PTS ini pada akhirnya mengarah pada satu tuntutan: perguruan tinggi harus menempatkan mutu pendidikan, pendampingan mahasiswa, integritas dan kompetensi lulusan sebagai prioritas utama. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *