20 Ibu Jadi Penggerak Budaya Baca, Literasi Dimulai dari Rumah
WAY KANAN – Gerakan membangun budaya literasi di Kabupaten Way Kanan dimulai dari lingkungan keluarga. Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) Perpustakaan Nasional RI Lokus Kabupaten Way Kanan resmi meluncurkan program Sekolah Keluarga Literat Way Kanan (Sekawan Literat) di TBM Kusnar, Kampung Setia Negara, Kecamatan Baradatu, Jumat (4/9/2026).
Program tersebut menempatkan keluarga sebagai ruang belajar pertama bagi anak sekaligus menjadi strategi untuk memperkuat budaya membaca di tengah masyarakat.
Sebanyak 20 ibu dari Dusun Kedu mengikuti sosialisasi perdana Sekawan Literat. Para peserta mendapatkan penguatan mengenai pentingnya membangun kebiasaan membaca di rumah serta meningkatkan kapasitas orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Ketua TP PKK Kampung Setia Negara, Poniasih, mengatakan pendidikan anak tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Rumah dan keluarga justru menjadi lingkungan pertama yang membentuk kebiasaan serta karakter anak.
“Pendidikan tidak melulu hanya di sekolah dan memakai seragam. Dari kelas ini kita sedang belajar bersama, dan ini adalah kesempatan baik untuk mendampingi anak-anak kita,” ujar Poniasih.
IBU JADI MOTOR LITERASI
Koordinator RELIMA Perpusnas RI Lokus Way Kanan, Fitri, menjelaskan peserta program dipilih dari kelompok ibu yang memiliki anak-anak seusia.
Menurutnya, pemilihan tersebut dimaksudkan agar pembiasaan membaca dapat dilakukan secara bersama-sama dan berkembang menjadi budaya di lingkungan tempat tinggal.
Pendekatan teman sebaya dinilai penting untuk membangun ekosistem literasi yang lebih kuat. Kebiasaan membaca tidak hanya diharapkan tumbuh dalam satu keluarga, tetapi juga menyebar ke keluarga dan lingkungan masyarakat lainnya.
“Harapannya, budaya baca tumbuh dari rumah lalu berdampak pada budaya baca di lingkungan masyarakat. Meski kelas selesai, kebiasaan literasi tetap berlanjut,” kata Fitri.
TAK BERHENTI SAAT KELAS USAI
Sekawan Literat tidak diarahkan sekadar menjadi kegiatan sosialisasi. Program tersebut diharapkan melahirkan kebiasaan baru dalam keluarga, khususnya melalui peran aktif orang tua dalam mendampingi anak membaca dan belajar.
Keluarga didorong menciptakan suasana rumah yang ramah literasi, sehingga membaca menjadi aktivitas sehari-hari yang menyenangkan, bukan sekadar kewajiban anak ketika berada di sekolah.
Dengan keterlibatan para ibu sebagai penggerak di tingkat keluarga, program tersebut diharapkan mampu menciptakan efek berantai di masyarakat.
Budaya membaca yang tumbuh di rumah diharapkan berkembang ke lingkungan sekitar, membentuk komunitas yang semakin sadar terhadap pentingnya literasi.
RELIMA Perpusnas RI Lokus Way Kanan berharap Sekawan Literat dapat menjadi salah satu langkah konkret membangun generasi Way Kanan yang gemar membaca, kritis, kreatif dan berdaya saing.
Gerakan tersebut sekaligus menegaskan bahwa membangun budaya literasi tidak selalu harus dimulai dari ruang kelas. Literasi bisa dimulai dari rumah, dari orang tua, dan dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. (Rls).






