Strategi Budaya, Moralitas Agama, dan Ekonomi Islam Jadi Tantangan Syarikat Islam
BANDAR LAMPUNG — Kongres Majelis Tahkim ke-42 Syarikat Islam (SI) yang akan digelar di Surabaya, 18–21 Oktober 2026, diharapkan tidak sekadar menjadi forum pergantian kepemimpinan organisasi. Kongres tersebut perlu menjadi momentum merumuskan strategi budaya, memperkuat moralitas agama, sekaligus mendorong kebangkitan ekonomi umat.
Pandangan itu disampaikan Darwanto, yang menilai Syarikat Islam memiliki posisi strategis dalam menyusun dan menyuarakan gagasan kebudayaan di tengah perubahan zaman.
Menurutnya, strategi budaya memiliki peran penting dalam menentukan arah pembangunan bangsa di masa depan. Organisasi kemasyarakatan seperti Syarikat Islam dinilai memiliki ruang besar untuk menggerakkan masyarakat dari berbagai daerah melalui gagasan yang mempersatukan.
“Syarikat Islam sangat relevan sebagai organisasi yang bisa menghimpun masyarakat dari Sabang sampai Merauke tanpa memilah satu sama lain. Betapa perlunya kita menyusun strategi budaya yang kuat di masa depan,” ujar Darwanto.
Karena itu, Kongres Majelis Tahkim ke-42 diharapkan mampu menghasilkan gagasan yang tidak hanya berbicara mengenai organisasi, tetapi juga menjawab persoalan masyarakat secara lebih luas.
Darwanto menyambut baik pelaksanaan kongres tersebut. Menurut dia, siapa pun yang nantinya terpilih memimpin Syarikat Islam harus mendapatkan dukungan seluruh kader.
“Siapapun terpilih nanti, kita sebagai kader wajib mendukung ketua terpilih mendatang. Mari kita sukseskan kongres ini dengan persatuan, gagasan, dan kerja nyata,” katanya.
Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan bagian yang wajar dalam organisasi. Namun, kepentingan membesarkan Syarikat Islam dan memperjuangkan kemaslahatan umat harus menjadi tujuan bersama.
JANGAN TINGGALKAN MORALITAS
Selain strategi budaya, Syarikat Islam dinilai perlu memperkuat peran dalam menghadapi perkembangan teknologi dan perubahan sosial. Kemajuan pendidikan dan teknologi, menurut Darwanto, perlu berjalan beriringan dengan penguatan moralitas dan nilai agama.
Ia menilai terdapat tantangan ketika perkembangan pendidikan dan teknologi tidak dibarengi fondasi moral dan agama yang kuat.
“Ketika laju pendidikan tanpa moralitas agama, itu akan menjerumuskan manusia dalam satu jebakan yang fatal. Ini yang akan kita tindaklanjuti ke depan,” ujarnya.
Menurutnya, Syarikat Islam juga memiliki pekerjaan besar dalam membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dengan pendekatan nilai-nilai agama serta menghadapi perkembangan teknologi secara bijak.
Namun, satu agenda yang tidak kalah penting adalah penguatan ekonomi umat.
Darwanto mendorong Syarikat Islam menjadikan ekonomi Islam sebagai salah satu agenda strategis organisasi. Pemberdayaan ekonomi masyarakat perlu diarahkan agar umat tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi mampu menjadi pelaku ekonomi yang mandiri.
“Ada satu hal yang perlu kita kembangkan bersama, terkait ekonomi umat,” tegasnya.
Karena itu, Kongres Majelis Tahkim ke-42 diharapkan melahirkan agenda konkret yang menghubungkan strategi budaya, pendidikan, moralitas agama, lingkungan, teknologi, dan pemberdayaan ekonomi umat.
“Bersama dengan Syarikat Islam, mari kita kembangkan strategi budaya untuk masa depan bangsa yang lebih baik dan ekonomi Islam,” pungkasnya. (*).






