Bandarlampung – PDI Perjuangan (PDIP) Lampung bakal melakukan evaluasi secara besar-besaran. Hal itu menyusul kekalahan banteng moncong putih di lima dari delapan pilkada serentak 2020 di Provinsi Lampung.
Terlebih lagi, dua petahana yang direkomendasikan Megawati Soekarno Putri, Loekman Djoyosoemarto di Lampung Tengah dan Zaiful Bokhari di Lampung Timur harus tumbang dan tersungkur.
Diketahui, hasil Pleno rekapitulasi hasil penghitungan suara di tingkat kabupaten dan kota di Provinsi Lampung sudah selesai per Rabu (16/12).
Hasilnya, dari 8 kabupaten yang menyelenggarakan pilkada, PDIP hanya berhasil menang di tiga daerah, yakni Eva-Deddy di Kota Bandarlampung, Dendi-Marzuki di Pesawan, dan Nanang-Pandu di Lampung Selatan.
Wakil Ketua bidang organisasi Watoni Noerdin mengatakan, pihaknya akan melakukan evaluasi besar-besaran lantaran di lima daerah lainnya, PDIP harus pasrah menanggung kekalahan.
Diantaranya Pesisir Barat, Waykanan, Lampung Tengah, Kota Metro, dan Lampung Timur.
Bahkan, petahana yang diusung PDIP di Lampung Tengah Loekman Djoyosoemarto-M. Ilyas Hayani Muda dan Lampung timur Zaiful Bokhari-Sudibyo ikut gagal dalam Pilkada ini.
“Ini sebuah hal yang cukup memprihatinkan bagi PDIP, karena beberapa petahana yang merupakan calon dari PDIP gagal mempertahankan suaranya bahkan berada di posisi ketiga Lampung Tengah dan kedua Lampung timur,” ujarnya, Rabu (16/12).
Menurutnya, hasil pilkada ini harus menjadi catatan panjang. Sebelumnya, pihaknya memprediksi bahwa petahana tidak boleh meraih suara kurang dari 50 persen. Jika kurang dari angka itu, artinya gagal.
“Contoh Dendi (Pesawaran), Alhamdulillah 57 persen, dia termasuk berhasil, kalau Loekman (Lampung Tengah) 20 persen dan Zaiful 38 persen sekian, ini yang harus menjadi kajian untuk menjadi evaluasi besar,” tambahnya.
Watoni menyebut, kekalahan di lima daerah tersebut berkaitan dengan pandemi covid-19, dimana setiap calon diawasi protokol kesehatan.
“Itu memang mau tidak mau, suka tidak suka yang melakukan turun kelapangan secara masif, mungkin bisa menjalankan dengan baik. Akhirnya kita terbelenggu, dan akhirnya tidak mampu menggerus suara itu dengan baik,” kata dia.
“Sementara orang yang ingin menang pasti sudah tidak pilihan, dia harus melakukan terobosan-terobosan, dan ini menjadi persoalan dari kita,” pungkasnya. (*)






