Oleh
Rizka Septia
Voulentir Yayasan Rumah Kreasi Indonesia
Pesta demokrasi sebentar lagi akan diselenggarakan. Sudahkah Anda memiliki calon legislatif yang akan Anda pilih sesuai dengan hati nurani Anda? Banyaknya calon legislatif dari tingkat DPRD Kabupaten sampai DPR RI, membuat banyak orang bingung dengan calon pemimpin yang benar-benar relevan untuk menjadi wakil rakyat mereka. Terutama generasi milenial yang baru akan memberikan hak pilihnya pada pemilu kali ini untuk pertama kalinya.
Menurut hasil survey Politik LIPI, sekitar 35% sampai 40% atau sekitar 80 juta dari 185 juta pemilih pada pemilu kali ini didominasi oleh kaum milenial. Angka yang cukup menggiurkan bagi para calon legislatif untuk memperebutkan suara mereka sehingga alangkah pentingnya sosialisasi dan iklan yang menarik kaum muda untuk menyumbangkan hak pilihnya kepada calon yang tepat.
Generasi Z menjadi salah satu kelompok pemilih Pemilu 2024 tersebut, yakni generasi Z atau i-generation. Generasi Z atau kerap yang sering disebut sebagai gen Z merupakan aset pemilu dengan populasi penduduk yang besar serta suara penentu kemenangan dengan komposisi suara tertinggi dalam Pemilu 2024.
Jika dikaitkan dengan pelaksanaan Pemilu 2024, tentunya peranan dari generasi Z tidak bisa dipandang sebelah mata. Bahkan boleh dikatakan bahwa generasi Z akan sangat berpengaruh terhadap kemenangan suara para kontestan Pemilu 2024 nanti. Salah satu alasannya ialah karena jumlah dari generasi Z sangat banyak, bisa sampai 40 persen dari jumlah penduduk negara Indonesia.
Dalam hal partisipasi politik, generasi Z sangat substansial karena dalam presentase jumlah pemilih generasi milenial banyak menyumbangkan suara di Pemilu 2024 nantinya. Generasi Z memiliki pengaruh tersendiri dalam pemilu selain karena jumlahnya yang cukup banyak, generasi Z juga hidup pada era informasi di mana segala sesuatunya menggunakan internet atau media online.
Gen Z sendiri satu kelompok terpisah dari generasi milenial atau generasi Y, dimana generasi Z lahir dalam rentang tahun 1996 – 2009. Kelompok ini termasuk generasi yang sangat muda dan up to date terhadap informasi yang tersebar di media massa dan internet. Selain itu, generasi ini mempunyai karakter menyukai teknologi digital, fleksibel, lebih cerdas, dan toleran pada perbedaan. Tetapi di lain sisi mereka juga memliki kebiasaan kurang baik, seperti lebih senang dengan budaya instan dan kurang peka terhadap esensi privat.
Karakteristik tersebut berpengaruh terhadap nilai – nilai pandangan dan tujuan hidup termasuk sikap dan cara pandang yang mempengaruhi peran mereka di pemilu 2024.
Dengan jumlah yang relatif besar tersebut para tokoh politik berupaya maksimal untuk membangun opini publik yang bersifat humanis dan persuasif di tengah-tengah generasi Z. Karena Gen Z dinilai sebagai kelompok yang mampu memberikan kontribusi besar bagi setiap kandidat. Dari kacamata politik saat ini, partisipasi generasi Z sangat mencuri perhatian setiap kandidat politik. Karena intensifikasi terhadap akses informasi dari pemanfaatan teknologi digital (media sosial) membuka ruang untuk mengakses beragam isu secara luas dan cepat.
Pemilu Dan Generasi Gen Z
Dalam konteks pemilu, generasi milenial memiliki peran strategis dalam mengawal pemilu tanpa kebencian. Pertama, generasi milenial dapat membantu menyebarkan informasi yang akurat dan tidak mengandung unsur kebencian.
Dengan akses ke media sosial, generasi milenial dapat membagikan informasi tentang calon yang berdasarkan pada fakta, bukan fitnah atau propaganda politik. Generasi milenial juga dapat memperkenalkan platform digital baru untuk meningkatkan partisipasi pemilih, seperti aplikasi atau situs web yang membantu pemilih mencari tahu tentang calon dan isu politik.
Kedua, generasi milenial dapat mempromosikan dialog yang konstruktif dan positif di antara pemilih dan kelompok politik. Dalam era polarisasi politik yang tinggi, generasi milenial dapat membantu membangun jembatan antara kelompok politik yang berbeda untuk mencapai kesepakatan. Dalam pemilu, ini dapat dicapai melalui forum debat publik atau acara kampanye yang melibatkan berbagai kelompok pemilih. Generasi milenial dapat membantu dalam memoderasi diskusi yang mengarah pada solusi yang positif.
Ketiga, generasi milenial dapat membantu memperkenalkan kampanye positif dan menyampaikan pesan-pesan yang membangun kepercayaan dan keamanan bagi pemilih. Generasi milenial dapat memperkenalkan strategi kampanye yang lebih fokus pada isu dan visi calon daripada menyerang atau memojokkan lawan politik. Kampanye yang positif dapat membantu mengurangi tingkat kebencian dan mempromosikan pemilihan yang lebih damai dan adil.
Pendidikan Politik Bagi Generasi Gen Z
Dalam upaya meningkatkan pengetahuan, wawasan, dan partisipasi pemilu warganegara, ada beberapa jenis lembaga pendidikan politik yang dapat digunakan untuk melaksanakan pendidikan politik agar dapat meningkatkan partisipasi pemilu bagik warganegara. Adapun berbagai lembaga tersebut adalah : keluarga, lembaga pendidikan, teman sebaya/sepergaulan (peergroup), media massa cetak maupun elektronik, dan organisasi politik.
Pendidikan politik melalui keluarga. Sebagaimana diketahui bersama bahwa keluarga merupakan institusi pertama dan utama dalam kehidupan seseorang, sehingga menjadi lembaga yang pertama kali membentuk watak dan kepribadian serta perilaku politik anaknya. Orang tua berperan mengajarkan kepada anaknya untuk mengenal masyarakat, bangsa, dan negaranya termasuk kegiatan yang berkaitan dengan pemilu sehingga meningkat partisipasinya.
Pendidikan politik melalui lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan yang merupakan lingkungan ke dua setelah keluarga, juga memiliki peranan yang besar dalam membina dan mengembangkan kepribadian seseorang termasuk dalam pembentukan sikap dan partisipasi dalam pemilu. Melalui lembaga pendidikan formal ini, siswa dapat belajar berbagai pengetahuan, termasuk pengetahuan ketatanegaraan, diantaranya tentang sistem dan mekanisme penyelenggaraan pemilu dan bagaimana cara warganegara berpartisipasi dalam tahap-tahap pemilu tersebut. (*).






