BANDARLAMPUNG- Bakal Calon Wali Kota Bandarlampung Rycko Menoza memastikan kaum milenial akan mewarnai pelayanan di Kota Bandarlampung, dari tingkat kelurahan hingga Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Kader Golkar ini menyebut revolusi industri 4.0 menuntut pemerintah berinovasi dalam pelayanan kepada masyarakat. Cara-cara lama yang rumit dan memakan waktu harus dipangkas dengan memanfaatkan teknologi terbaru yang kemajuan teknologi ini dipahami dan didominasi anak-anak muda kaum milenial.
Bagi mantan Bupati Lampung Selatan ini, potensi kaum milenial harus dimaksimalkan. “Kaum milenial ini harus kita perankan. Anak-anak muda yang lebih dekat dengan perkembangan teknologi. Kalau misalnya kantor kelurahan atau kecamatan masih ada operator yang gagap teknologi atau tidak update ini juga kan bisa jadi persoalan,” kata Rycko akhir pekan kemarin.
Karena itu tegas Rycko, peran kaum milenial harus didorong dan dipacu. Mereka punya kemampuan yang lebih. Mereka bisa ikut mempromosikan wisata Bandarlampung, ikut memudahkan pemkot dalam memberikan pelayanan. Rycko berjanji setelah terpilih menjadi Walikota Bandarlampung akan mengundang para akademisi agar dilibatkan secara langsung. Sehingga mahasiswa dari Itera, Unila dan berbagai universitas lainnya dapat mengambil peran dalam meingkatkan kualitas SDM di Bandarlampung.
Menurutnya, pemerintah saat ini memang sudah bergerak ke arah pelayanan berbasis digital. Seperti pembuatan KTP/KK secara online. Namun dalam pelaksanaannya, Rycko menilai masih banyak ketidaksesuaian. Maka kepala daerah harus turun langsung untuk mengecek situasi di lapangan.
“Kepala daerah harus memonitor. Misalnya ada program gratis dari pemerintah tetapi di bawah masih ada pungutan. Ini kan masih terjadi dan dikeluhkan masyarakat, saya juga mendengar dan merekam. Ini tugas kepala daerah untuk memastikan pelayanan ini benar-benar sampai,” tandasnya.
Masih soal milenial, mantan Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Lampung ini melihat potensi ekonomi yang saat ini tengah ‘naik daun’ yaitu kopi. Kebetulan Lampung adalah salah satu penghasil kopi terbesar di Indonesia, potensi ini sangat besar jika dikekola dengan baik. Rycko melihat di Bandarlampung saat ini menjamur kedai kopi. Rata-rata pemilik dan pengunjungnya adalah anak-anak muda.
“Mereka hari ini berjuang sendiri, mereka membuka kedai kopi dengan pola masing-masing. Saya kira perlu peran peremintah untuk memfasilitasi mereka. Diajak diskusi bagaimana mereka ikut memberikan kontribusi bagi Kota Bandar Lampung dalam bidang ekonomi,” kata dia.
Menurutnya, pemkot bisa mengeluarkan satu kebijakan dengan membuat satu kawasan pusat kopi. Sehingga lokasi ini bisa menjadi satu daerah wisata kuliner yang khas dengan kopinya. Jika dikunjungi banyak pengunjung maka para pemilik kedai kopi akan mendapatkan keuntungan, pun begitu dengan Bandarlampung akan semakin dikenal sebagai kota kopi.
Mengakhiri keterangannya, Rycko juga membeber soal agline Bandarlampung BARU. Menurutnya, kata BARU merupakan singkatan dari B= Bersih, A= Aman, R= Religius, U= Unggul. Rycko berharap apa yang menjadi makna dalam tagline-nya itu dapat terwujud ketika kelak dirinya terpilih menjadi wali kota Bandarlampung.
Mulai dari mewujudkan kota bersih. Rycko menginginkan apa yang sebelumnya telah ditorehkan Pemerintah Kota Bandarlampung yakni dengan meraih penghargaan Adipura pada beberapa tahun lalu, dapat kembali diraih. “Hari ini setelah sekian tahun kita tidak pernah lagi mendapatkan pengharagaan Adipura. Selain itu layaknya sebagai kota maju, tentunya kita harus melihat keindahan kota, memberikan fasilitas bagi pejalan kaki dan kaum difabel. Apa lagi kita sampai sekarang masih dihadapi dengan permasalahan banjir. Ini tentu menjadi tanggung jawab bersama bagaimana pemerintah bersama semua komponen masyarakat persoalan seperti ini harus bisa segera diatasi,” ungkap Rycko.
Selanjutnya yaitu kota aman. Di mana menurutnya setiap masyarakat berhak memperoleh keamanan. Kurangnya rasa aman dikatakannya berasal dari berbagai faktor seperti minimnya penyerapan tenaga kerja dan pembangunan yang kurang merata. Semua itu ia bertekat akan mengatasinya.
Kota religius. Masyarakat Kota Bandarlampung yang memiliki berbagai latar belakang suku, agama, golongan harus diberi porsi yang sama oleh pemerintah, tidak boleh membeda-bedakan seperti memberikan program untuk suatu agama tertentu saja.
“Kita hidup di republik Pancasila tentu kita berharap bagaimana program ini terbuka untuk semua,” katanya.
Dan terakhir yakni unggul. Bandar Lampung harus mampu bersaing dengan kota-kota besar di pulau Sumatera seperti Palembang, Padang, dan Medan. (pt)






