Pasca memutuskan keluar dari Partai Amanat Nasional (PAN), politisi senior di Lampung Abdullah Fadri Auli dikabarkan pindah gerbong ke Partai Gelora Indonesia. Bahkan beredar gambar ucapan selamat datang dan selamat bergabung dari partai besutan Fahri Hamzah itu kepada mantan Ketua DPW PAN Lampung ini.
Sekretaris DPW Partai Gelora Indonesia Lampung, Imron Rosyadi membenarkan hal tersebut. Dikatakannya, kabar bakal bergabungnya Bang Aab – sapaan akrab Abdullah Fadri Auli – didapatnya dari penasehat partainya, Bang Tanzi.
Diakuinya, terkait mundurnya Bang Aab dari partai PAN Ini begitu viral di media tempo hari. “Kebetulan salah satu penasehat kami di Partai Gelora Lampung (Bang Tanzi Roni) sahabat dekat dari bang Aab, langsung menelpon beliau dan menawarkan masuk ke partai gelora lampung. Info dari bang Tanzi, Bang Aab bersedia bergabung
Atas informasi tersebut, dirinya mengaku bahagia dan turut mengapresiasi. “Tentu sebagai partai baru dan kami partai terbuka. Sangat berbahagia dan sebuah kehormatan salah satu tokoh Lampung seperti Bang Abdullah Fadri Auli bergabung di Partai gelora. Terkait detail pembicaraan Bang Aab dengan Bang Tanzi, monggo bisa langsung konfirmasi,” ungkapnya.
Untuk itu, lanjut dia, pihaknya akan mengagendakan silaturahmi dengan Bang Aab di kediaman rumahnya. “Sabtu kemarin saya sempat berbicara sebentar dengan Bang Aab via telp. Kami mengagendakan hari Rabu akan segera silahturahim kerumah beliau untuk meminta wejangan dan ngobrol-ngobrol santai,” tandasnya.
Terpisah, Bang Aab mengucapkan terima kasih atas sambutan dan simpati Partai Gelora pasca keputusannya keluar dari PAN. “Iya terima kasih, ada yang bersimpati dengan saya setelah keluar dari PAN, kemudian ada yang mau menyambut, ujarnya.
Kendati demikian, mantan Anggota DPRD Lampung tiga periode ini mengatakan perlu aktu untuk mempertimbangkan untuk masuk ke Partai Gelora.
“Saat ini belum ada keputusan. Kita akan pertimbangkan dulu. Karena saya kan sudah tua, dan sudah cukup lama di dunia politik. Jadi ini perlu pertimbangan apakah saya masih akan di dunia politik atau tidak? Ini yang jadi pertimbangan saya,” ungkapnya.
Selain itu, dirinya juga perlu berdiskusi terlebih dulu dengan pihak keluarga. “Kita juga tidak nmau loncat tidak karuan. Artinya kita perlu konsultasi dulu dengan keluarga, karena keluarga itu nomor satu. Bagaimana kita akan berpolitik, tapi nkeluarga tidak mendukung,” ungkapnya lagi.
Menurutnya, semua orang bisa saja keluar masuk partai. Namun, drinya tidak mau dinilai karakternya karena keluar masuk partai. “Jadi kita pertimbangkan dulu. Pas atau tidak dengan pikiran kita. Gerakannya sama atau tidak dengan pikiran kita. Sejalan atau tidak. Kita akan lihat dulu seperti apa,” tukasnya.
Sebelumnya, Kontelasi politik menjelang Musyawarah Wilayah (Muswil) DPW PAN Lampung Juli 2020 mendatang sedikit memanas. Tokoh senior yang juga mantan Ketua DPW PAN Lampung, Abdullah Fadri Auli menyatakan mundur dari partainya.
Bang Aab – sapaan akrabnya – yang digadang maju pada sebagai calon ketua pada Muswil itu menilai garis politik yang berlangsung diinternal partainya anggap telah menyimpang dari nilai demokratisasi dan perjuangan reformasi.
Padahal, dipartai yang pernah melambungkan namanya 3 periode duduk sebagai anggota DPRD Provinsi Lampung, dia salah satu deklarator PAN di tahun 1998.
Abdullah Fadri mengaku sedih, dan menyatakan mundur setelah melihat dinamika politik paska Kongres PAN Kendari.
“Saya sedih dan prihatin, setelah kongres PAN di Kendari. Dinamika politik-demokrasi sudah tidak sehat, sehingga saya memutuskan tidak lagi mau bergabung dengan PAN,” kata dia, Sabtu (13/6).
Alasan lain, kenapa ia mundur, lebih karena tokoh Amien Rais. “Panutan saya adalah Prof. DR. Amien Rais, maka setelah Pak Amien Rais disingkirkan dari PAN, maka saya pun ikut dengan keputusan beliau, untuk hijrah dari PAN,” ungkapnya.
Kemudian, masih kata dia, pengabdianya selama 15 tahun di PAN telah cukup. Dia mengaku, ikut mendirikan PAN Lampung (1998). Pernah jadi ketua DPW PAN Lampung tahun 2005.
Pada tahun itu (2005-2010), masih kata Aab, menjadi masa kejayaan PAN, dimana proses pemilihan ketua berlangsung secara demokratis.
Mekanisnya adil, dimana semua struktur dari ranting (pimpinan tingkat Desa/Kampung) memiliki hak suara. “Jadi demokratisasi berlangsung sangat baik, sesuai AD/ART PAN,” ujar ketua PBSI, olahraga Bulutangkis Lampung itu. (cah)






