Bandarlampung – Jelang pilkada serentak Desember mendatang, suara PDIP dan Golkar dipastikan bakal pecah. Hal itu menyusul adanya dua kader di masing-masing partai itu yang maju di pilkada yang sama.
PDIP bakal menemui perpecahan dukungan para kadernya di pilkada Bandarlampung dan Pesawaran. Sementara pendukung kader Golkar bakal pecah di pilkada Lampung Timur.
Di Bandarlampung, Eva Dwiana dan Tulus Purnomo yang notabene kader PDIP dipastikan maju pilkada setempat. Eva yang menggandeng Dedi Amrullah sebagai wakilnya telah mendapat dukungan PDIP, Nasdem, dan PKS. Sedangkan Tulus yang notabene calon wakilnya Yusuf Kohar mendapat dukungan Demokrat, PAN, PKB, Perindo, dan PPP.
Kemudian di Pesawaran, M. Nasir yang notabene Ketua DPC PDIP Pesawaran mesti merelakan rekomendasi partainya jatuh ke tangan koleganya di PDIP, Marzuki. Nasir yang berpasangan dengan Naldi Rinara ini telah mendapat dukungan dari PAN dan Nasdem. Sedangkan koleganya, Marzuki yang juga calon wakilnya Dendi Ramadhona telah mendapat dukungan Demokrat, Gerindra, PDIP, PKB, Golkar, PPP, dan Hanura.
Sementara di Lampung Timur, dua kader Golkar, Azwar Hadi dan Sudibyo dipastikan maju pilkada setempat. Keduanya juga maju sebagai bakal calon wail bupati. Azwar menjadi wakilnya Dawam Rahardjo dan telah mendapat dukungan Golkar dan PKB. Sedangkan Sudibyo menjadi wakilnya Zaiful Bokhari telah mendapat dukungan PDIP dan PKS. Keduanya pun sebelumnya tampak sengit memperebutkan rekomendasi Golkar.
Wakil Ketua DPD PDIP Lampung Bidang Komunikasi Politik, Yanuar Irawan mengaku perbedaan dukungan para kader suadh biasa di partainya. “Sudah biasa kader beda pilihan di awalnya. Tapi ketika perintah DPP sudah turun, nantinya kader yang juga para banteng ini akan kembali ke kandangnya,” ujarnya, kemarin.
Ketua Komisi V DPRD Lampung ini juga menegaskan pihaknya bakal memberikan sanksi bagi para kader yang membelot dengan tidak mendukung calon yang diusung PDIP.
“Sesuai dengan AD/ART partai, kader wajib mengamankan dan memenangkan calon yang mendapat rekom dari DPP. Dan bagi kader yang membelot pasti nanti akan mendapat sanksi dari DPP. Dan ini kewenangannya DPP,” ungkapnya.
Untuk itu, Sekretaris Fraksi PDIP DPRD Lampung ini kembali menegaskan jika kadernya yang berada dibawah tetap solid bakal mendukung dan memenangkan calon yang direkom oleh DPP.
“Kita ada mekanismenya. Nanti kita ada Rakercabsus, disini kita akan menyusun program-program pemenangan pilkada. Disini juga sebagai langkah untuk mensolidkan kader yang sebelumnya terjadi beda pilihan,” jelasnya.
Terpisah, Sekretaris DPD I Partai Golkar Lampung, Ismet Roni menegaskan pihaknya tetap solid mendukung pasangan Dawam-Azwar.
Dirinya pun meyakini kader yang ada dibawah tetap solid mendukungnya. “Kita tetap solid dukung pasangan Dawam-Azwar. Dan dua nama ini yang kita usulkan ke DPP dan tidak ada nama lainnya,” ujarnya, belum lama ini.
Mantan Wakil Ketua DPRD Provinsi Lampung ini meyakini rekomendasi yang dikeluarkan oleh DPP untuk pilkada Lamtim tidak melenceng dari yang diusulkan oleh DPD. “Proses tahapan pilkada yang sekarang ini di DPP Partai Golkar sangat tertata rapi dan disiplin ketat. Jadi saya yakin rekomendasi yang keluar nantinya tidak melenceng dari apa yang kita usulkan,” terangnya.
Anggota DPRD Lampung ini tidak mempersoalkan kadernya Sudibyo yang digandeng maju menjadi wakil Zaiful yang belum lama ini dilantik menjadi kader PDI Perjuangan.
Menurutnya, hal itu membuktikan jika Partai Golkar tidak kekurangan kader terbaiknya untuk dicalonkan maju sebagai calon bupati dan calon wakil bupati. “Buktinya, ini ada kader kita yang gandeng kader lain. Artinya Golkar ini tidak kekurangan kader,” kata dia.
Kendati demikian, dirinya mengungkapkan pada nantinya Sudibyo bakal mendapatkan konsekuensi dari partai. “Semua ada konsekuensinya dan semua nanti pasti ada prosesnya. Karena, jika DPP sudah menginstruksikan, maka kader harus tegak lurus,” tandasnya. (cah)






