Eva-Yusuf Saling Serang

// Dari Debat Publik Perdana Calon Walikota Bandarlampung //

Bandarlampung – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandarlampung menggelar debat kandidat calon walikota di ballroom Sheraton Hotel, Bandarlampung, kemarin. Debat yang semula berjalan santai itu mulai memanas saat memasuki segmen tanya jawab antar calon.

Bahkan, calon walikota nomor urut 2 Yusuf Kohar dan calon nomor 3 Eva Dwiana tampak saling serang dalam segmen keempat itu. Sementara Calon Walikota Nomor urut 01 Rycko tampak cukup rasional, tidak emosional dan menyerang calon lain.

Dalam segmen itu, Istri Walikota Herman HN itu menuding Yusuf Kohar yang notabene Wakil Walikota (nonaktif) itu tidak tahu soal pembangunan di Kota Tapis Berseri. Hal itu terlihat saat politisi PDI Perjuagan itu bertanya kepada Yusuf Kohar. “Jikalau Bapak menjadi walikota, apa yang bapak lakukan di masa pandemi ini?,” tanyanya.

Menjawab pertanyaan Eva, Yusuf Kohar Yusuf Kohar mengatakan, dalam mengatasi pandemi Covid-19 ini, pihaknya akan menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Mulai dari alat rapid test dan swab test yang akan difasilitasi di setiap puskesmas.

“Pertama, kita harus menyiapakan sarana dan prasarana untuk mengatasi pandemi. Rapid test, swab test harus disiapkan di puskesmas. Kita akan bangun juga rumah sakit di kota ini untuk bisa mengecek pasien Covid,” kata Yusuf Kohar.

Menanggapi jawaban Yusuf, Eva menuding Yusuf tidak tahu Kota Bandarlampung. Karena, kata dia, Puskesmas di Bandarlampung saat ini sudah bisa melakukan Swab.

“Jadi saya minta tolong kepada Bapak (Yusuf Kohar, red) kalau merasa menjadi wakil walikota, bapak harus tahu Kota Bandarlampung saat ini seperti apa. Jangan bisanya marah-marah saja kerjaannya,” cetusnya.

Serangan makin nampak jelas antar keduanya saat Yusuf Kohar bertanya kepada Eva Dwiana. Yusuf menanyakan terkait jalan di Kota Bandarlampung banyak yang rusak bahkan ada yang baru 3 atau 6 bulan selesai diperbaiki sudah rusak. “Nah, bagaimana Ibu nanti kedepan kalau jadi walikota supaya jalan di Bandarlampung ini mulus, tidak tergenangi air?,” tanyanya.

Menjawab pertanyaan Yusuf, Eva membantah jika jalan dikota Bandarlampung itu rusak. Karena setahunya, jalan di Kota Bandarlampung sudah bagus semua, kecuali jalan gang. Kendati demikian, diirnya berjanji akan membuat jalan gang di Kota Bandarlampung itu mulus.

“Jadi menurut saya Pak Yusuf ini nggak cocok unutk lanjutkan. Jadi untuk Lanjutkan biar saya saja Pak. Soalnya Pak Yusuf ini nggak banyak tahu sih soal pembangunan Kota Bandarlampung,” selorohnya.

Menanggapi jawaban Eva, Yusuf membantah jika dirinya tidak tahu pembangunan Kota Bandarlampung. “Bukannya saya nggak tahu, justru saya tahu. Makanya saya komplain dengan BPK, kenapa Bandarlampung dapat WTP tapi jalan baru 6 bulan sudah rusak,” tanggapnya.

Diketahui, Sesi terakhir debat kandidat Pilkada Bandar Lampung 2020 berlangsung semakin seru. Ketiga calon wali kota saling melontarkan pertanyaan kepada rivalnya. Dalam ajang tersebut, ketiganya diberikan waktu berdurasi 2 menit untuk menjawab pertanyaan.

Dalam kesempatan pertama, Yusuf Kohar mempertanyakan upaya menyelesaikan persoalan banjir yang ada di Bandar Lampung kepada calon nomor urut 1 Rycko Menoza.

“Bagaiman cara Pak Rycko menyelesaikan banjir di Bandar Lampung?” tanya Yusuf Kohar.

Menurut Rycko, sungai menjadi pemicu utama banjir. Jadi upaya yang harus dilakukan untuk mencegah banjir adalah menormalisasi sungai.

Selain itu, kata Rycko, cara lainnya adalah memanusiakan masyarakat yang ada di bantaran sungai. Misalnya membudayakan membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan dan juga kenyamanan orang lain.

“Pemerintah juga harus ada rangsangan program dengan bedah rumah di pinggir pantai. Masalah banjir di kota juga tidak lepas masalah pelebaran drainase. Mudah-mudahan ke depan ini yang akan kita tata harus berjalan dengan baik,” kata Rycko Menoza.

Menanggapi jawaban tersebut, Yusuf Kohar mengatakan, mengatasi persoalan banjir di Bandar Lampung tidak terlalu sulit jika diatur dengan baik.

“Bandar Lampung ini topografinya ada tinggi dan rendah. Semestinya tidak banjir kalo diatur. Kita harus ajak masyarakat mengatur kebersihan,” jelas Yusuf Kohar. (cah)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *