Bandarlampung – Hari H pencoblosan pilkada serentak tinggal satu bulan lagi, partai Golkar Lamsel justru carut marut. Pasalnya, pimpinan kecamatan (PK) sebagai kader dalam struktur partai merasa kecewa kurang dilibatkan dalam pesta demokrasi lima tahunan itu.
Surat pernyataan yang dibacakan oleh ketua Forum PK Golkar Lampung Selatan Muksin syukur yang merupakan PK Kalianda, yang berisi 3 poin yaitu:
- Bahwa apa yang kami lakukan kemaren tidak ada maksud melakukan mosi tidak percaya kepada ketua golkar lampung selatan H.Tony eka candra.
- Bahwasanya tindakan kami kemaren bukan bermaksud mengalihkan dukungan kepada calon lain,seperti di beritakan di media masa yang seolah olah di wakili oleh saudara kami Jauhari (PK Katibung)
- Bahwa tujuan kami hanya ingin mendapat perhatian dan betul betul di libatkan dalam kegiatan pemenangan calon Bupati bapak H.Tony eka candra dan H.Antoni imam.SE.
Pimpinan kecamatan (PK) partai Golkar Lampung Selatan menegaskan masih solid satu komando atas Toni Eka Candra selaku ketua DPD II. Para PK itupun siap berjuang memenangkan Toni Eka Candra -Hantoni Imam dalam pilkada serentak Desember mendatang.
Sembilan dari sebelas PK tersebut menolak dikatakan telah mengalihkan dukungan politik untuk calon lain. Dimana sebelumnya diberitakan bahwa 11 PK pada tanggal 17 november 2020 lalu, yang ditandatangani oleh 11 Ketua PK Partai Golkar Lampung Selatan tidak percaya lagi atas Toni Eka Candra selaku ketua DPD II Golkar Lampung Selatan. Selain itu,11 PK juga mengalihkan dukungan kepada calon lain.
Demikian pernyataan yang disampaikan oleh 9 Pimpinan Kecamatan (PK) Partai Golkar guna mengklarifikasi atas pemberitaan yang beredar.
Kesembilan pimpinan Kecamatan (PK) yang mumbuat pernyataan tersebut yakni, PK Kalianda, Palas, Rajabasa, Bakauheni, Sragi, Ketapang,Way panji, Natar, dan Penengahan.
Menurut Sekjen DPD Partai Golkar Lampung Selatan, A.Benny Raharjo didampingi Ketua Harian DPD Partai Golkar Agus Sutanto, kabar yang beredar tersebut tidaklah benar, karena menurutnya, hal tersebut hanya misskomunikasi saja.
“Mereka 11 PK tersebut hanya ingin mendapatkan perhatian dari pimpinan dan turut dilibatkan dalam kegiatan pemenangan paslon yang diusung oleh Partai Golkar,” kata Benny, Sabtu (21/11/2020) di Kantor DPD II Partai Golkar Lamsel.
Lebih lanjut dirinya menjelaskan, pihaknya bukan tidak mau melibatkan 11 PK tersebut dalam setiap kegiatan paslon TEC-Antoni Imam, namun telah ada tim yang dibuat baik dari internal ataupun external partai.
“Ada tim yang bisa di katakan dari internal mesin partai, ada juga tim dari external. Sebenarnya cuma miskomunikasi aja menurut saya” jelas Benny.
Terkait ketidakhadiran 2 PK yaitu PK Katibung dan Sidomulyo, Benny menyatakan akan memberikan sanksi tegas yang akan diputuskan pada pleno DPD II Partai Golkar.
“Ada salah satu PK yang akan diberikan sanksi tegas, karena oknum PK tersebut sudah melakukan kesalahan fatal. Untuk yang lainnya juga nanti akan kita Plt kan,” tegasnyam
Sementara Ketua Harian DPD II Partai Golkar Lamsel Agus Sutanto menuturkan, tidak semudah itu jajarannya melakukan mosi tidak percaya, karena semuanya harus sesuai dengan mekanisme yang tertuang dalam AD/ART Partai Golkar.
“Somasi itu ada mekanismenya sesuai dengan AD/ART Partai Golkar, yaitu harus melalui rapat pleno terlebih dulu dan hasil pleno tersebut ditandatangani oleh ketua dan sekretaris bukan diri sendiri (PK-red),” jelasnya.
Ketua Tim pemenangan Tony-Antoni inipun menyatakan, akan ada sanksi yang diterima oleh 11 PK tersebut dan sanksi yabg diberikan itu berbeda tergantung dengan kesalahan yang telah mereka lakukan.
“Ada, tapi nanti sanksi itu akan diputuskan dalam rapat Pleno DPD II Golkar,” pungkasnya.
Terpisahn, Ketua PK Golkar Katibung, Jauhari belum bisa dimintai tanggapannya terkait klarfikasi 9 PK Golkar tersebut. Dihubungi via ponsel pun tidak ada respon meskipun handponenya dalam keadaan aktif.
Sebelumnya, Jelang hari pencoblosan pilkada, calon bupati Lampung Selatan (Lamsel) Tony Eka Candra (TEC) diterpa kabar tak sedap. Ketua DPD II Golkar Lamsel ini dimosi tidak percaya lebih dari separuh Pimpinan Kecamatan (PK) Golkar setempat.
Mosi tersebut berujung pengalihan dukungan dari paslon yang diusung partai Beringin itu ke paslon nomor urut 3 Hi Hipni SE – Melin Haryani Wijaya (Himel). Sementara TEC melalui timnya membantah segala tudingan yang dilontarkan PK Golkar Lamsel itu.
Ketua PK Katibung, Jauhari mewakili PK-PK lainnya menyampaikan, ada 4 poin ketidakpercayaan pihaknya terhadap kepemimpinan TEC.
Sehingga, masih kata dia, pihaknya memutuskan melakukan Mosi tidak percaya dan mengalihkan dukungan ke bapak Hipni.
“Untuk diketahui, saya tegaskan gerakan kami murni inisiatif pribadi kami masing-masing tanpa ada rekayasa politis apapun. Saya PK Katibung, bersama 11 PK lainnya serta 1 organisasi sayap (AMPI) bersama-sama merasakan ketidaknyamanan atas kepemimpinan TEC di Golkar Lampung Selatan,” kata Jauhari usai menyerahkan surat Mosi di sekretariat DPD I Golkar Lampung di bilangan Pahoman Bandarlampung, kemarin.
Empat poin itu, terus Jauhari, yang pertama adalah pihaknya selaku PK tidak pernah diberdayakan, kedua sebagai ketua PK kabinet periode TEC, secara resmi kami belum pernah dilantik. Ketiga, janji TEC untuk memberikan dana insentif bagi PK sebesar Rp1 juta perbulan tidak pernah terealisasi. Dan yang terakhir, selaku Ketua DPD Golkar Lampung Selatan, TEC pernah meminta para PK untuk menalangi dana pembentukan Pengurus Desa (PD) Partai Golkar sebanyak 29 orang pengurus di setiap desa.
“Janjinya dana talangan pembentukan PD itu akan segera diganti. Namun hingga kini, malah tidak jelas juntrungannya. Begitu pun dengan dana insentif Rp1juta perbulan, beliau (TEC) sendiri yang berjanji menawarkan bukan karena kami yang meminta. Hal itu disampaikan oleh TEC saat kami sedang kumpul di kantor DPD I Golkar Lampung,” beber Jauhari seraya diamini oleh ketua PK lainnya.
Untuk pengalihan dukungan, masih kata Jauhari, pertimbangan pihakny ke paslon Himel adalah, pertama Hipni merupakan kader Golkar tapi diusung partai lain (PAN, Gerindra, PKB).
“Selain itu kami menilai pak Hipni paling konsisten dari semua calon. Program kerja jelas, realistis. Pak Hipni dan bu Melin, keduanya asli warga Lampung Selatan. Secara pribadi, kami sudah saling mengenal sejak lama dengan pak Hipni. Ditambah lagi, bu Melin adalah istri dari pak Eky Setyanto mantan wakil bupati yang kami mengenal jejak rekamannya,” jelasnya.
Lebih dari itu, Jauhari mengungkapkan masalah pencalonan TEC dalam pilkada yang berujung menjadi beban PK terhadap massa binaan. Dikatakan Jauhari, dia memilih untuk membangkang perintah partai daripada mendapatkan cemoohan masyarakat.
“Terakhir, saya diminta untuk mendampingi kampanye pak TEC di Katibung dengan jurkam pak Agus Sutanto. Namun, begitu tahu kondisinya seperti itu, alhasil saya tegaskan saya menolak mendampingi acara kampanye kalau kondisinya seperti itu, bahwa masyarakat yang dikumpulkan tidak diberi air minum, snack makanan kecil dan dana transportasi. Daripada saya yang jadi malu, jadi bulan-bulanan masyarakat,” ketus Jauhari.
Dari pantauan, 11 PK yang ikut menandatangani mosi tak percaya tersebut masing-masing PK Kalianda, Muksin. Penengahan Sharudin. Katibung Jauhari. Bakauheni A.Yani. Rajabasa, Agustiar. Waypanji Teguh Suparman. Sidomulyo Harkimah/Wancik. Palas, Habibuloh. Sragi, Iwan Kuswara. Ketapang, Lukman Hasan. Natar, Aryanto. Sekretaris AMPI, Rahman Nuryansah. (cah/tak)






