Perjuangkan Nelayan Gudel

Wakil Ketua MPR yang juga Sekjen Partai Gerindra, Ahmad Muzani berkomitmen akan memperjuangkan nasib para nelayan yang berada di Gudang Lelang (Gudel) Teluk Betung Selatan, Bandarlampung. Hal itu menyusul banyaknya keluhan para nelayan soal izin kapal mereka yang kesulitan mencari bahan bakar.

Hal itu terungkap saat Anggota DPR RI asal Lampung ini melakukan kunjungan kerja daerah pemilihan (dapil) perorangan dan penyerahan bantuan di Bandarlampung, kemarin.

Ketua DPC Partai Gerindra Bandarlampung, Andika Wibawa mewakili Ahmad Muzani mengatakan, banyak persoalan yang disampaikan oleh masyarakat Bandarlampung dalam kunker Wakil Ketua MPR Ahmad Muzaini. Salah satunya adalah persolan nelayan di Gudel yang kesulitan mencari bahan bakar.

“Kalo nelayan di gudel memohon bagaimana perizinan masalah kapal mereka yang amat sulit. Bahkan buat membeli bahan bakar pun kesulitan, karena kartu izin kapalnya mati sedangkan mau buat begitu sulit mekanisme yang dijalani,” ujarnya.

Padahal, lanjutnya, pada jaman Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti ada peraturan menteri mengenai kapal yang dibawah 10 gt itu tidak perlu perizinan alias bebas menyurat, karena tergolong nelayan kecil.

“Tapi kenyataannya ya  peraturan tersebut tidak berlaku. Nelayan kecil tetap saja kena perizinan dan dipersulit saat pembuatan izin serta banyak oknum yang memanfaatkan pengurusan izin tersebut,” ungkap Andika menyampaikan keluh kesah para nelayan.

Atas persoalan itu, disampaikan Andika, Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani berjanji akan menyurati KKP yang baru. “Agar peraturan yang dibuat di jamannya Bu Susi bisa diterapkan buat nelayan kecil,” tukasnya.

Dalam kunker tersebut, disampaikan Andika, Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani juga menyerap aspirasi serta keluhan masyarakat selama masa pandemi Covid-19 yang ternyata berdampak besar pada ekonomi masyarakat.

Diantaranya persoalan guru honorer yang mengeluhkan supaya diangkat menjadi PNS dan PKK yang menginginkan ada perhatian lebih dari pemerintah.

“Kemudian guru ngaji juga minta perhatiannya dengan pemerintah. Ya bicara segala macam sampai pulsa HP pun dikeluhkan karena makin susah biaya makin bertambah karena darling anak-anak sekolah memakan kuota yang tidak sedikit,” jelas Andika. (cah)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *