Bandarlampung – Hari ini HUT ke-58 Propinsi Lampung, tentu ini menjadi momen penting bagi pemerintah Propinsi Lampung untuk melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap program yang telah digulirkan apakah memberikan dampak pada visi Pemprop Lampung yaitu Rakyat Lampung Berjaya. Pertanyaannya apakah saat ini rakyat Lampung sudah berjaya ? Menurut Ketua DPW Perhimpunan Petani dan Nelayan Seluruh Indonesia Propinsi Lampung, Aep Saripudin, paling tidak kita bisa melihatnya pada 2 indikator saja. Pertama, persentase penduduk miskin di Propinsi Lampung, dan kedua, pada Nilai Tukar Petani (NTP).
Berdasarkan data BPS pada bulan September 2021, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Lampung mencapai 1,01 juta orang (11,67 persen). Artinya persentasenya masih pada skala 2 digit. Pemprop harus berupaya menurunkannya sampai pada sekala 1 digit saja. Kalau kita bicara penduduk miskin, tentu mayoritasnya ada di pedesaan yang mata pencariannya sebagain besar adalah petani. Ternyata hal ini pun selaras dengan indikator kedua yaitu NTP.
NTP Provinsi Lampung Februari 2022 sebesar 108,02 atau naik 1,10 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Peningkatan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib). Namun NTP ini pun belum terlalu besar, apalagi jika didetilkan pada beberapa Subsektornya yaitu Subsektor Padi & Palawija (NTP-P) (97,31), Hortikultura (NTP-H) (98,66), Tanaman Perkebunan Rakyat (NTP-Pr) (123,18), Peternakan (NTP-Pt) (104,05), Perikanan Tangkap (109,86), dan Perikanan Budidaya (100,91). Subsektor yang mayoritas dilakukan oleh petani Lampung kebanyakan adalah padi, palawija, dan hortikultura, NTP nya di bawah 100%, artinya petani Lampung kebanyakan mengalami kerugian tidak sebanding antara pengeluaran dengan pendapatan yang di terima lebih besar pasak dari pada tiang.
Maka dari itu PPNSI Lampung mengajak kepada pemprop Lampung agar program kedepan mulai fokus pemberdayaan petani khususnya pada 3 subsektor tadi. Melalui pendidikan dan pelatihan agar mendapatkan produksi yang tinggi, menyiapkan subsidi bibit unggul di barengi dengan ketersediaan pupuk yang memadai, dan terakhir adalah bantuan pemasaran produk melalui kerjasama yang dibuat oleh pemprop baik antar daerah maupun ekspor luar negeri, atau sekurang-kurangnya jaminan harga atau subsidi harga pada saat panen raya. (*)






