Bandarlampung – Anggota Komisi II DPRD Provinsi Lampung, Dadang Sumpena meminta pihak pemerintah, baik pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota melakukan langkah antisipasi atas anjloknya harga tomat.
Hal itu disampaikannya menanggapi viralpetani di Pemangku Umbul Lioh, Pekon (Desa) Sebarus, Kecamatan Balik Bukit membuang ratusan Kilogram tomat hasil panen karena kecewa harga tomat anjlok hingga 70 persen.
Politisi PDI Perjuangan ini juga mengaku prihatin dengan nasib para petani di Lampung, khusunya petani tomat. Pasalnya, anjloknya harga tomat ini selalu terjadi setiap kali panen raya.
“Ini dulu juga pernah terjadi seperti ini. Setiap panen harga turun nggak sesuai dengan biaya operasional,” ujarnya, Selasa (29/3).
Legislator dapil Lampung Barat dan Pesisir Barat ini pun berharap pemerintah sudah bisa mengantisipasi terhadap anjloknya harga produk pertanian, khususnya tomat.
“Tomat ini kan bisa kita manfaatkan untuk produk lain, sehingga hasil petani tidak mubazir dengan kondisi harga sekarang ini,” tegasnya.
Seperti apa caranya? Menurut Dadang, pemerintah bisa membuat pabrik saos. “Karena saya belum tahu di Lampung ini sudah apa belum pabrik saos. Kalau ada kenapa ini tidak dimanfaatkan. Atau kita buat semacam dodol atau produk makanan lainnya. Karena kita dulu disini pernah ada yang namanya dodol tomat. Tapi sekarang kurang tau masih ada atau enggak,” bebernya.
Menurutnya, kabupaten Lampung Barat dari dulu memang untuk produksinya sangat banyak, tapi penjualannya sangat rendah. “Makanya pemerintah harusnya sudah tahu lah persoalan semacam ini,” kata dia.
Diakuinya, harga komoditi untuk pertanian memang selalu mengalami penurunan pada saat produksinya meningkat. Kebalikannya, saat produksinya turun, harganya naik. “Maksud saya ini harus sudah bisa jadi pengalaman bagi pemerintah, baik pihak pemerintah provinsi, maupun pemerintah kabupaten,” jelasnya.
Lebih lanjut, pihaknya berencana akan membawa persoalan ini pada saat hearing atau rapat dengar pendapat dengan dinas terkait. “Ini nanti akan kita jadikan bahan untuk hearing dengan dinas terkait. Bagaiman produksi ini bisa kita antisipasi dengan harga yang stabil agar petani tidak rugi,” tukasnya.
Sebelumnya diketahui, Kecewa karena harga tomat anjlok hingga 70 persen, petani di Pemangku Umbul Lioh, Pekon (Desa) Sebarus, Kecamatan Balik Bukit membuang ratusan Kilogram tomat hasil panen.
Sutikno salah satu petani menjelaskan bahwa anjloknya harga tomat sudah terjadi selama satu bulan terakhir sehingga ia dan petani lain merasa kecewa dan memilih membuang ratusan kilogram tomat hasil panen.
“Harga tomat terus menurun dari harga normal bahkan saat ini turun hingga 70 persen, untuk modal saja tidak balik jadi lebih baik hasil panen kita buang dari pada tidak ada harga yang sesuai,” jelasnya, Minggu, (27/03)
Ia menjelaskan harga normal tomat perkilo di kalangan petani sebesar Rp2000-3000 per/kg, namun sekarang hanya Rp400/kg sehingga jauh merosot dari harga yang di harapkan oleh para petani. (Cah)






