Peringati Hari Ibu, TP Sriwijaya Lampung Gelar Lomba Kebaya

Bandarlampung – Dalam rangka memperingati Hari Ibu ke-94, TP Sriwijaya Lampung dan Srikandi Sriwijaya Lampung menggelar lomba kebaya jadul dan kuno, Kamis (15/12). Kegiatan yang Cafe Liano, Sukarame, Bandarlampupng itu mengusung tema “Perempuan Hebat, Indonesia Maju’.

Ketua TP Sriwijaya Lampung, Nurhasanah mengatakan, selain untuk memeperat jalinan silaturahmi, lomba ini juga untuk merawat serta melestarikan kebudayaan indonesia, khususnya kebaya.

Dikatakannya, Kebaya adalah salah satu ciri khas identitas Indonesia, terutama bagi perempuan, untuk merepresentasi kekuatan konstruksi sosial yang dapat menyatukan isu sosial, baik gender, ras, etnik, dan ideologi.

“Hal inilah yang menunjukkan bahwa Kebaya selain berfungsi sebagai busana nasional juga sebagai busana tradisional, kebaya juga berkaitan dengan sejarah,” ujarnya.

Menurutnya, perempuan Indonesia dengan berkebaya dapat berkonstribusi pada perkembangan nasionalisme Indonesia dan perempuan yang menciptakan rasa kebangsaan, dan keberagaman.

“Jika dilihat dari perspektif gender, hal ini menunjukkan bahwa kemampuan perempuan menentukan fashion adalah kemampuan sebagai aktor atau agensi atas dirinya sendiri. Fashion menunjukkan bahwa perempuan membalut dirinya dengan “kecantikan” merupakan ekspresi dari norma dan nilai yang ada di luar dirinya,” tutur anggota DPRD Lampung ini.

Dengan kebaya, lanjutnya, hal itu merupakan apresiasi kaum perempuan yang menunjukan bahwa busana kebaya itu bisa digunakan dimana saja, kapan saja, tidak ribet, bahkan bisa digunakan untuk berolahraga, seperti pada acara CFD.

“Sering mendengar keluhan ibu–ibu atau perempuan jika ditunjuk untuk menggunakan kebaya pada acara tertentu, mereka menolak karena membayangkan berkebaya itu ribet, terkekang dan sulit bergerak. Ternyata yang kita lihat tidaklah demikian, berkebaya bisa dengan sepatu kets, dengan gaya yang santai, terlebih perempuan remaja dan milenial,” bebernya.

Disampaikannya juga, tampilan berkebaya dengan berbagai macam seperti, kebaya Betawi, kebaya muslim, kebaya santai, Kebaya Kartini, Kebaya Encim dan lain sebagainya. Bahkan bisa digunakan pada semua usia (anak-anak, remaja, ibu-ibu, juga oma-oma).

“Diharapkan kedepan, acara ber-kebaya juga dapat mengakomodir adanya orang – orang dengan kemampuan yang berbeda, misalnya kelompok rentan (ibu-ibu, Lansia dan Penyandang Disabilitas),” harapnya.

Lebih lanjut, mereka diberikan prioritas untuk ambil bagian dengan memperhatikan kebutuhannya, akan dapat berpartisipasi dan Bahagia bisa menyatu dengan seluruh perempuan.

“Mari kita dukung upaya organisasi pegiat kebaya untuk terus memperjuangkan kebaya ditetapkan sebagai warisan budaya,” pungkasnya. (cah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *