Oleh
Apriyan Sucipto, SH, MH – Wasek TP Sriwijaya Provinsi Lampung
Proyek Strategis Nasional – Ibukota Negara, yang sudah tertuang didalam Undang undang Nomor 3 Tahun 2022 tentang Ibu Kota Negara (IKN), merupakan proyeksi dan keinginan Seluruh Masyarakat Indonesia. Karena sudah melalui pembahasan dan perencanaan yang matang di DPR/MPR.
Pemindahan ibukota memang sudah sejak lama menjadi wacana negara ini, keinginan itu datang dari Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Karena untuk membangun IKN itu memerlukan kematangan dalam hal finansial hingga kematangan dalam rancangannya, maka baru di era Presiden Jokowi IKN bisa mulai dikerjakan.
Tentu itu adalah salah satu hajat besar negara kita menuju Indonesia emas.
Dan siapa capres yang menggaungkan komitmennya, untuk serius dalam melanjutkan IKN?
Anies Baswedan, jelas sudah angkat tangan dengan alasan IKN butuh dana besar dan hal itu tidak sebanding dengan manfaat yang diterima.
Begitu pula dengan Prabowo Subianto yang kurang memiliki minat dan gagasannya serta power untuk melanjutkan IKN. Sekelas Proyek Strategis Nasional seperti food estate di Kalimantan Tengah saja dia gagal dan kini lahannya mangkrak.
Apalagi nanti megaproyek sebesar perpindahan ibukota dengan pembangunan berbagai infrastrukturnya, mau dijadikan ladang bisnis untuk menghidupkan perusahaan-perusahaannya dengan keluarga?
Bukan tanpa dasar, Prabowo sendiri yang mengungkapkan dengan kekuasaan perusahaannya bisa beroperasi dengan baik. Begitu yang sekarang sudah nampak, perusahaan keluarganya sendiri sudah berjejer di sana. Mungkin sedang menunggu penandatangan proposal kerjasama.
Kalau sudah ada rekam jejak yang buruk dan kemungkinan yang berpotensi terjadi, masak iya masih mau coba-coba mempercayainya? Presiden dan rakyat sudah dikecewakan Prabowo, masih mau mempercayainya memegang amanah besar sebagai pemimpin negeri ini?
Kemudian melihat satu-satunya capres yang bisa diandalkan untuk meneruskan pondasi utama menuju Indonesia emas, hanya Ganjar Pranowo. Dia sendiri sejak awal sudah berkomitmen akan melanjutkan pembangunan itu.
Di hari kampanyenya di Kalimantan Timur saja, dia bertandang ke IKN untuk melihat langsung progress pembangunan di sana. Kedatangan Ganjar ini sebagai satu penegasan ulang, bahwa dia konsisten dengan janjinya untuk melanjutkan IKN.
Berbagai alasan diungkapkannya, tentang masa depan IKN yang menjanjikan, merupakan cita-cita besar Soekarno, hingga ke bagian dari taat dan patuh terhadap konstitusi. Bukan hanya memindahkan gedung dan administrasinya, di sana ada pemerataan pembangunan, membesarkan ekonomi hijau dan ekonomi biru sampai pada pengembangan teknologi lainnya.
Seorang pejabat dan kepala negara sudah disumpah untuk menjalankan tugasnya dnegan baik, maka taat dan patuh konstitusi menjadi bagian besar dalam realisasinya. Dan selama ini rekam jejak Ganjar membuktikan itu.
Selama di Jateng, semua upaya untuk menumbuhkan ekonomi hijau dan biru digalakkan. Pun dengan pemeraan infrastruktur didorong maksimal di setiap desa. Sampai-sampai dia sendiri dikritik anak sulung Jokowi yang sekarang juga cawapres, bahwa komputer SMK di Jateng sudah jadul.
Ya Mohon maaf Mas Gibran dana APBD Jateng mungkin tidak seberapa dari pusat untuk membawa perubahan di Jateng, tapi Ganjar saat menjadi Gubernur berusaha untuk membagi rata ke perdesaan. Jadi untuk komputer, selagi masih bisa dipakai dan masih memberikan manfaat lebih baik digunakan dulu dengan baik.
Ya begitulah sosok Ganjar, yang memiliki jiwa leader tinggi. Semua gambarannya termaktub dari rekam jejaknya. Jadi saya tidak lagi ragu, jika IKN ada di bawah kendalinya. Toh untuk investor, di eranya juga terus berdatangan. Untuk mencarikan modal demi melanjutkan pembangunan dari pondasi yang sudah diletakkan Jokowi, tidak akan sulit. Sudah jelas bukan hanya Ganjar seorang yang bisa dan mampu melanjutkan perjuangan Jokowi, bukan yang lain. (*).






