Interaksi negatif antara beruang madu (Helarctos malayanus) dan manusia sudah beberapa kali terjadi di Lampung Barat, dan Pesisir Barat.
Meski penyebab serangan dari setiap kasus tidak diketahui secara pasti, tetapi hilangnya hutan secara cepat dan fragmentasi habitat di wilayah jelajah memperbesar kemungkinan interaksi antara beruang madu dan manusia.
Spesies beruang madu secara ilmiah diketahui bersifat tertutup dan pemalu. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya di pepohonan. Oleh karena itu, sifat alami beruang madu tidak agresif kecuali mendapat provokasi.
Hal ini bisa disebabkan karena habitat mereka yang kian rusak, sehingga membuat mereka kehilangan tempat persembunyian, seringkali dalam kondisi stres dan lapar.
Kondisi yang tidak ideal ini kerap membuat beruang madu dan satwa lainnya lebih agresif karena merasa terancam.
Dalam konteks konflik antara satwa liar dan manusia, kita perlu melihat kedua pihak sebagai korban. Satwa liar turut menjadi korban akibat ulah manusia yang terus merambah hutan dan habitat mereka.
Maka dari itu, kasus seperti ini perlu ditinjau secara holistik dan memerlukan upaya preventif untuk mitigasi konflik serupa di masa depan. Karena apabila akar masalahnya tidak diselesaikan, maka insiden ini jelas tidak akan jadi yang terakhir.
Sebagai tambahan, persebaran beruang madu memang banyak di hutan hujan di Asia Tenggara seperti Pulau Sumatra.
Sayangnya, spesies ini sudah masuk kategori rentan (vulnerable) dalam Daftar Merah IUCN. Populasi beruang madu sendiri diperkirakan telah menurun sebanyak 30 persen selama 30 tahun terakhir.(rls)
Apriyan Sucipto, SH, MH
BKSDA Bengkulu
SKW III Lampung






