Om Pram, Guru Jurnalisme Bersandal Jepit

Bandar Lampung — Di balik rambut gondrongnya yang khas dan sandal jepit yang hampir selalu menemaninya, Stefanus Pramono — atau akrab disapa Om Pram — kembali menunjukkan mengapa ia dihormati sebagai salah satu jurnalis senior terbaik yang dimiliki Indonesia.

Redaktur Pelaksana Majalah Tempo sekaligus host program Bocor Alus itu hadir di Bandar Lampung untuk memberikan pelatihan jurnalistik bagi para wartawan dan media yang biasa meliput di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung.

Kegiatan capacity building jurnalistik yang digelar di Hotel Grand Mercure, 25–26 November 2025, menjadi ruang belajar yang tak hanya penuh ilmu, tetapi juga humor, kehangatan, dan kebiasaan khas Om Pram yang membuat suasana mencair: tampil santai, bersahaja, dan meninggalkan kesan “guru jurnalisme yang tak pernah menggurui.”

Sejak sesi pertama dimulai, gaya mengajar Om Pram langsung menyedot perhatian peserta. Tidak ada jarak antara pemateri dan wartawan. Diskusi mengalir, tanya jawab tak pernah putus, dan setiap materi disampaikan dengan contoh yang renyah—sering kali diiringi gelak tawa.

Namun di balik suasana santai itu, tersimpan keseriusan. Om Pram menekankan bahwa inti jurnalisme tetap sama: menulis berita yang baik, benar, jernih, dan mampu membuat pembaca bertahan hingga paragraf terakhir.

“Jurnalis bukan sekadar menulis, tapi membangun kepercayaan,” begitu salah satu pesan yang berulang kali ia tekankan.

Dalam sesi materi, Om Pram mengurai teknik menulis berita dengan struktur yang kuat, bagaimana menentukan sudut pandang yang tepat, serta cara menyusun paragraf yang hidup. Ia juga mengajak peserta memahami kebutuhan pembaca era digital yang semakin kritis.

“Kalau jurnalisnya tidak mendalami liputan, pembaca juga tidak akan mendalami berita yang kita tulis,” ujarnya, mengutip istilah khasnya yang langsung viral di ruang pelatihan.

Para peserta mengaku mendapatkan banyak pembelajaran baru, bukan hanya soal teknik, tetapi juga soal filosofi jurnalisme: bahwa berita bukan sekadar produk, melainkan tanggung jawab publik.

Bukan hanya materi yang memikat, tetapi juga sosoknya. Rambut gondrong, baju kasual, dan sandal jepit yang setia menemani membuat Om Pram terasa begitu dekat. Tidak ada kesan senioritas berlebihan, tidak ada jarak ala “guru besar.” Yang ada justru persahabatan.

Kesederhanaan itu tampaknya justru menjadi kekuatan yang membuat peserta tak sungkan berdiskusi panjang, bahkan setelah sesi pelatihan resmi berakhir.

Dua hari pelatihan itu terasa begitu cepat berlalu. Namun jejaknya panjang. Om Pram bukan hanya memberikan materi, tetapi juga menghidupkan kembali semangat para wartawan untuk menulis dengan hati, memegang disiplin verifikasi, dan kembali ke prinsip dasar: jurnalisme yang bertanggung jawab adalah jurnalisme yang membuat publik lebih cerdas.

Di luar ruang pelatihan, sandal jepitnya mungkin terlihat sederhana. Namun jejak ilmunya di dunia jurnalisme Indonesia—dan kini di Lampung—jelas tak akan mudah hilang.

Sekilas Om Pram, Bekerja di Tempo sejak November 2005, alumni IISIP Jakarta ini menjadi Redaktur Pelaksana Politik dan Hukum. Pernah meliput perang di Suriah dan terlibat dalam sejumlah investigasi lintas negara seperti perdagangan manusia dan Panama Papers. Meraih Kate Webb Prize 2013, penghargaan untuk jurnalis di daerah konflik, serta Adinegoro 2016 dan 2019. (Cah).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *