Hidup-Mati Pabrik Tapioka, Degup Cemas Petani Singkong Lampung

Bandarlampung – Di hamparan ladang Lampung Tengah pada pagi yang masih berkabut, Suroto berdiri menatap rumpun singkong yang baru ia tebang. Di sampingnya, tumpukan batang dan umbi memenuhi tanah basah. Sudah tiga hari ia menahan panen, menunggu kabar apakah pabrik tapioka di wilayahnya membuka pintu atau kembali tutup. “Kalau pabrik nggak buka, singkong cuma jadi beban. Mau dijual ke mana?” keluhnya.

Beberapa bulan terakhir, kehidupan petani singkong di Lampung berjalan seperti menunggu undian nasib. Harga yang fluktuatif, kadar pati yang menjadi alasan banyak pabrik menolak barang, hingga penutupan sementara pabrik tapioka membuat desa-desa penghasil singkong berada dalam kecemasan berkepanjangan. Di pinggir jalan dekat pabrik, deretan truk terparkir sampai dua hari. Sopir tidur di kabin, petani menunggu dengan gelisah.

“Kami tanam enam bulan, tapi harga bisa berubah dalam enam jam. Itu yang paling bikin takut,” ujar Siti Maryam, petani perempuan di Lampung Timur, sambil menimang anak bungsunya di teras rumah. Ia bercerita tentang modal yang terus membengkak sementara hasil panen tak lagi bisa diandalkan untuk menutup biaya pupuk dan tenaga kerja.

Harapan muncul saat para pemilik pabrik tapioka dipanggil Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan menyatakan siap kembali beroperasi dengan harga sesuai Pergub dan keputusan gubernur. Kabar itu cepat menyebar dari grup WhatsApp petani hingga obrolan di warung kopi desa. Beberapa petani langsung menyiapkan panen, sebagian lainnya memilih menunggu realisasi di lapangan.

Namun bagi petani, kepastian bukan sekadar pertemuan. “Janji itu baik, tapi kami sudah sering trauma. Yang kami lihat nanti itu timbangannya, bukan foto-foto rapat,” kata Wagimin, pengangkut singkong di Tulangbawang, sambil menepuk bak truknya yang mulai berkarat karena terlalu lama menganggur.

Industri tapioka selama bertahun-tahun menjadi nadi ekonomi pedesaan Lampung. Ketika pabrik berjalan normal, aktivitas desa menggeliat: bengkel truk kebanjiran pelanggan, warung makan ramai, jasa angkut laris. Namun ketika pabrik berhenti membeli, dampaknya langsung terasa. Warung kosong, pasar sepi, dan utang petani di koperasi mulai menumpuk.

Kini, dengan komitmen pabrik yang kembali beroperasi, secercah optimisme muncul—meski masih menyisakan ketegangan. Para petani tetap menanam, tetap memupuk, tetap berharap. Mereka percaya bahwa singkong bukan sekadar komoditas, melainkan denyut kehidupan mereka sendiri.

Suroto kembali mengikat singkong-singkongnya dengan tali rafia. “Asal pabrik konsisten, kami bisa napas lagi. Nggak banyak yang kami minta, cuma harga yang layak untuk hidup,” ujarnya.

Di tengah ketidakpastian ekonomi, Lampung kembali menggantungkan harapannya pada singkong—tanaman sederhana yang telah lama menjadi penopang dapur, sekolah, dan masa depan ribuan keluarga. (Cah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *