Bandar Lampung — Di tengah menguatnya polarisasi sosial dan narasi intoleransi, Komunitas GUSDURian Lampung meluncurkan Kelas Penggerak GUSDURian sebagai upaya strategis menyiapkan kader kepemimpinan muda yang berkarakter inklusif dan berkeadilan. Program ini menjadi ruang peningkatan kapasitas bagi para penggerak komunitas untuk membangun prototipe gerakan sosial di daerah.
Koordinator Komunitas GUSDURian Lampung, Yogi Prazani, mengatakan kelas ini lahir dari kebutuhan merawat warisan pemikiran dan perjuangan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), khususnya di kalangan generasi muda. Menurutnya, visi Gus Dur tentang Indonesia yang inklusif, demokratis, dan berkeadilan sosial kian relevan di tengah tantangan kebangsaan saat ini.
“Kelas Penggerak GUSDURian tidak hanya menguatkan penggerak yang sudah aktif, tetapi juga merekrut dan membekali calon penggerak baru yang memiliki nilai, minat, dan semangat yang sama,” ujar Yogi.
Program ini menyasar anak muda berusia 20–30 tahun, mulai dari mahasiswa, profesional muda hingga aktivis. Kelompok usia ini dinilai berada di garis depan perubahan sosial sekaligus fase pembentukan identitas dan komitmen publik. “Kami ingin membangun kader kepemimpinan muda yang tidak hanya paham teori, tetapi juga memiliki karakter kuat dan keterampilan praktis untuk menggerakkan komunitas serta memengaruhi publik,” tegasnya.
Secara kurikulum, Kelas Penggerak GUSDURian disusun secara holistik melalui tiga pilar utama: kepemimpinan berlandaskan keteladanan dan visi inklusif ala Gus Dur; pengelolaan komunitas yang mencakup manajemen gerakan, komunikasi publik, dan strategi advokasi; serta pendalaman nilai dan pemikiran Gus Dur—mulai dari sembilan nilai utama Gusdurian, toleransi, demokrasi, penghormatan HAM, keadilan ekologi, hingga pembelaan terhadap kaum marginal.
Pendaftaran Kelas Penggerak GUSDURian Lampung dibuka pada 15–31 Desember 2025. Informasi lebih lanjut dapat diperoleh melalui Yogi Prazani di nomor 0821 8415 6309 atau Instagram @gusdurian.lpg. (*)






