Bandar Lampung – Menutup tahun 2025, laju inflasi di Provinsi Lampung tetap terjaga dan berada pada level yang terkendali. Berdasarkan rilis Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Lampung, Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Desember 2025 tercatat mengalami inflasi sebesar 0,59 persen (month to month/mtm), lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 0,64 persen (mtm).
Secara tahunan, inflasi Lampung tercatat 1,25 persen (year on year/yoy), jauh di bawah inflasi nasional yang berada di level 2,92 persen (yoy). Capaian ini menegaskan stabilitas harga di Lampung masih terjaga di tengah dinamika ekonomi nasional dan global.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, menyatakan bahwa kinerja inflasi tersebut mencerminkan efektivitas sinergi pengendalian harga yang dilakukan bersama pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
“Stabilitas inflasi Lampung hingga akhir 2025 menunjukkan koordinasi pengendalian harga berjalan efektif. Ke depan, kami optimistis inflasi tetap berada dalam rentang sasaran 2,5±1 persen seiring penguatan langkah antisipatif menghadapi berbagai risiko,” ujar Bimo Epyanto, Senin (6/1).
BI mencatat, inflasi Desember 2025 terutama didorong oleh kenaikan harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau, khususnya komoditas cabai rawit, bawang merah, dan bawang putih, seiring tekanan pasokan akibat berakhirnya masa panen dan tingginya curah hujan. Selain itu, kenaikan harga emas perhiasan dan penyesuaian harga BBM nonsubsidi turut memberi andil terhadap inflasi.
Namun demikian, tekanan inflasi tersebut tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas hortikultura seperti tomat, salak, dan terong, serta penurunan tarif angkutan sungai dan penyeberangan yang didukung kebijakan diskon pada periode Natal dan Tahun Baru.
Menghadapi 2026, BI Lampung menegaskan komitmennya bersama TPID untuk terus menjaga stabilitas harga melalui strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi yang efektif.
“Berbagai risiko ke depan, mulai dari faktor cuaca, dinamika harga pangan strategis saat Ramadan dan Idul Fitri, hingga ketidakpastian global, akan terus kami mitigasi melalui penguatan operasi pasar, kerja sama antar daerah, serta komunikasi yang konsisten kepada masyarakat,” tegas Bimo.
Dengan inflasi yang tetap terkendali, Bank Indonesia menilai stabilitas harga di Provinsi Lampung menjadi fondasi penting dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan. (*).






