Belajar Mencintai dari Baduy

BANTEN — Tanpa listrik, tanpa gawai, tanpa hiruk pikuk dunia digital. Di tanah perbukitan Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, waktu seakan berjalan lebih pelan. Di sinilah, menjelang Hari Pers Nasional (HPN) 2026, puluhan wartawan dan sastrawan Indonesia berhenti sejenak—untuk belajar mencintai.

Selama dua hari, 16–17 Januari 2026, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat mengajak insan pers dan pegiat sastra mengikuti Kemah Budaya Baduy. Bukan sekadar agenda menjelang HPN, tetapi sebuah perjalanan batin bertema “Belajar Mencintai dari Baduy.”

Sekitar 50 peserta dari berbagai provinsi—dari Kalimantan hingga Sumatera, dari Jawa hingga Lampung—menyatu dalam kesederhanaan hidup masyarakat adat Baduy. Menariknya, delapan dari sepuluh peserta adalah perempuan. Wartawati dan sastrawati yang datang membawa pena, rasa, dan kepekaan.

Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir melepas keberangkatan peserta dengan satu pesan sederhana: hormati Baduy, catat dengan jujur, dan rawat kearifan lokal dalam setiap karya.

“Baduy mengajarkan kejujuran, kesederhanaan, dan penghormatan pada alam. Nilai-nilai inilah yang harus hidup dalam karya jurnalistik dan sastra,” pesannya.

Perjalanan dimulai dari Rangkasbitung, menyusuri jejak sejarah di Museum Multatuli, tempat gagasan antikolonialisme tumbuh dari pena. Lalu berlanjut ke Ciboleger, hingga langkah kaki peserta benar-benar memasuki Baduy Luar—tanpa alas modernitas.

Di Imah Jaro, petuah demi petuah mengalir. Tentang alam yang dijaga, tradisi yang diwariskan, dan hidup yang dijalani tanpa berlebih. Malam dilalui di rumah warga, tidur di lantai bambu, diterangi lampu seadanya. Tak ada sinyal, tak ada notifikasi—yang ada hanya percakapan dan perenungan.

Pagi harinya, hutan Baduy menyambut dengan kemurahan. Durian, manggis, rambutan, dan hasil bumi lain mengalir dari alam yang dirawat, bukan dieksploitasi. Para peserta mencatat, merasakan, dan menyimpan cerita.

Ketua Departemen Seni, Musik, Film, dan Budaya PWI Pusat Ramon Damora menyebut Kemah Budaya ini sebagai refleksi jurnalistik.

“Baduy mengajarkan mencintai kehidupan secara jujur—alam, tradisi, dan sesama. Nilai ini penting agar karya pers tak hanya informatif, tapi juga berjiwa,” ujarnya.

Perjalanan itu tidak berhenti di Kanekes. Dari tenda dan rumah panggung Baduy, lahir rencana sebuah buku. Feature, esai, puisi, dan cerpen akan dihimpun, disunting, dan diluncurkan pada 8 Februari 2026, sehari sebelum puncak perayaan HPN di Banten.

Menjelang HPN 2026, insan pers tidak hanya menyiapkan panggung perayaan. Di Baduy, mereka menyiapkan nurani—belajar mencintai, sebelum kembali menulis tentang dunia. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *