Pilar Komunikasi Unila dan Penjaga Integritas Demokrasi Lampung Pergi
BANDARLAMPUNG – Duka mendalam menyelimuti Universitas Lampung (Unila) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Lampung. Dr. Nanang Trenggono, M.Si., dosen senior Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unila sekaligus mantan Ketua KPU Provinsi Lampung dua periode, wafat pada Rabu (21/1/2026) pukul 17.00 WIB di Rumah Sakit Immanuel, Bandar Lampung.
Kepergian Dr. Nanang menjadi kehilangan besar, bukan hanya bagi sivitas akademika Unila, tetapi juga bagi demokrasi di Lampung. Sosok yang dikenal sebagai akademisi, komunikator ulung, dan penjaga integritas Pemilu itu menutup perjalanan panjang pengabdian yang sarat keteladanan.
Di lingkungan kampus, Dr. Nanang adalah figur sentral. Selain mengajar sejak 1989 hingga akhir hayat, ia dipercaya sebagai tenaga ahli Rektor dan juru bicara Universitas Lampung, berperan penting dalam membangun komunikasi kelembagaan dan citra institusi di ruang publik.
“Pak Nanang sangat berjasa sebagai juru bicara Rektor. Perannya penting dalam membangun hubungan sehat antara Unila dan media massa, serta merumuskan narasi kelembagaan yang kredibel dan inspiratif,” ujar Wakil Rektor Bidang PKSI Unila, Prof. Ayi Ahadiat.
Lahir di Purwodadi, 4 Desember 1962, almarhum menjabat Lektor Kepala di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unila. Ia dikenal rendah hati, disiplin, dan tak pernah lelah membimbing mahasiswa serta kolega.
Dekan FISIP Unila, Prof. Dr. Anna Gustina Zainal, M.Si., menegaskan kontribusi almarhum melampaui fakultas.
“Beliau bukan hanya mengabdi di FISIP, tetapi juga banyak membantu rektorat, termasuk sebagai juru bicara universitas dan tenaga ahli Humas Unila,” ujarnya.
Prof. Anna mengenang Dr. Nanang sebagai sosok ngemong dan penuh energi positif.
“Beliau selalu mengingatkan bahwa kita bukan sekadar pengajar, tetapi pendidik. Jangan pernah menyerah selama masih ada peluang untuk berupaya,” kenangnya haru.
Di luar kampus, Dr. Nanang Trenggono adalah arsitek demokrasi Lampung. Ia pernah menjabat Komisioner KPU Provinsi Lampung periode 2008–2013, lalu dipercaya sebagai Ketua KPU Lampung periode 2012–2014 dan 2014–2019. Kepemimpinannya dikenal tenang, tegas, dan berintegritas, terutama dalam menjaga independensi penyelenggaraan Pemilu.
“Kami kehilangan pemimpin, guru, sekaligus teladan. Almarhum mengajarkan bahwa Pemilu adalah amanah demokrasi yang harus dijaga dengan nurani,” kata Ketua KPU Provinsi Lampung, Erwan Bustami.
Menurut Erwan, Dr. Nanang meletakkan fondasi profesionalitas dan integritas KPU Lampung yang hingga kini masih menjadi rujukan. Banyak sistem kerja dan budaya kelembagaan yang diwariskannya tetap hidup dan dijalankan.
Kepakaran komunikasi politik almarhum mengantarkannya meraih gelar Doktor dari Universitas Padjadjaran (2009), setelah sebelumnya menyelesaikan Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia (1995). Keilmuan dan pengalamannya menjadikannya jembatan komunikasi strategis antara lembaga, publik, dan media.
Kepergian Dr. Nanang Trenggono meninggalkan warisan nilai yang tak ternilai: ketulusan mengabdi, kejernihan berpikir, dan keberanian menjaga integritas. Sosoknya mungkin telah pergi, namun jejak pengabdiannya akan terus hidup di kampus, di lembaga demokrasi, dan di hati masyarakat Lampung.
Selamat jalan, Pak Nanang.
Pengabdianmu abadi, teladanmu tak tergantikan. Al-Fatihah. (*).






