PALEMBANG — Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) bersama Nokia memperkuat literasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di Sumatra Selatan melalui program GENsi (Generasi Digital dan AI) yang digelar di Universitas Sriwijaya (UNSRI), Palembang. Program ini diarahkan untuk menyiapkan talenta lokal sebagai penggerak transformasi digital di daerah, di tengah pesatnya adopsi teknologi AI di berbagai sektor.
Melalui pendekatan pembelajaran berkelanjutan, GENsi tidak sekadar menjadi pelatihan satu kali, melainkan intervensi ekosistem literasi digital yang mengombinasikan pelatihan tatap muka berbasis kampus dan pembelajaran mandiri melalui Learning Management System (LMS). Secara nasional, program ini menargetkan 10.000 penerima manfaat dari berbagai wilayah di Indonesia.
Di Palembang, sekitar 150 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan pelajar lintas jenjang pendidikan mengikuti peningkatan kapasitas di bidang literasi digital, keamanan siber, dan pemanfaatan AI. Palembang dipilih sebagai salah satu lokasi utama implementasi program, selain Tarakan, Kalimantan Utara, sebagai upaya memastikan pemerataan literasi AI hingga ke daerah dengan potensi talenta lokal yang besar.
Executive Vice President–Head of Circle Sumatra Indosat Ooredoo Hutchison, Agus Sulistio, menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan komitmen Indosat dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia di wilayah Sumatra.
“Melalui GENsi, kami ingin memastikan talenta muda di Palembang tidak hanya menjadi penonton dalam transformasi AI, tetapi menjadi pemain aktif yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menjawab persoalan di lingkungan mereka. Literasi digital dan pemahaman AI adalah fondasi penting agar transformasi digital benar-benar berdampak,” ujar Agus.
Program GENsi dirancang untuk menjawab tantangan rendahnya literasi digital nasional. Berdasarkan Indeks Literasi Digital Indonesia 2024 yang berada di angka 3,65 dari skala 5, penguatan masih dibutuhkan, khususnya pada aspek keamanan digital dan kecakapan digital dalam pemanfaatan teknologi baru seperti AI.
Materi pelatihan mencakup literasi digital dasar, keamanan siber, pengenalan AI agents, hingga etika penggunaan AI. Salah satu sesi yang paling diminati adalah praktik pemanfaatan AI berbasis low/no-code, yang memungkinkan peserta tanpa latar belakang pemrograman membangun solusi digital sederhana, seperti chatbot, untuk menjawab kebutuhan komunitas sekitar.
Program ini juga mengusung konsep multiplier effect. Sebanyak 20 peserta terpilih akan disiapkan menjadi GENsi Digital Trainers yang bertugas menyebarluaskan pengetahuan dan keterampilan kepada komunitas kampus dan masyarakat, sehingga dampak literasi digital dapat berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program ini. Nokia hadir sebagai mitra strategis dengan membawa perspektif industri teknologi global. Hendri Widjaja, Nokia Indonesia ESG Principle, menyebut GENsi sejalan dengan pilar ESG Nokia, Bridging Digital Divide.
“Kami berkomitmen menghadirkan pembelajaran yang inklusif, aplikatif, dan relevan dengan kebutuhan lokal agar generasi muda Indonesia dapat berpartisipasi penuh dalam transformasi teknologi,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari BPPTIK Kementerian Komunikasi dan Digital sebagai mitra pemerintah serta Kumpul sebagai mitra pelaksana desain pembelajaran. Kepala BPPTIK Komdigi, Hamdani Pratama, mengapresiasi kolaborasi pentahelix dalam program ini.
“Kami berharap talenta digital di Palembang memperoleh materi berstandar internasional dan mampu berinovasi memanfaatkan AI untuk menghadapi tantangan digital,” katanya.
Dengan kehadiran GENsi di Universitas Sriwijaya, diharapkan lahir gelombang baru talenta dan inovator muda dari Sumatra Selatan yang tidak hanya melek teknologi, tetapi siap berkontribusi aktif dalam pengembangan ekonomi digital Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan. (*).






