Dari Abung ke Panggung Nasional

Menuju Puncak HPN 2026, Tarian Bedayo Abung Siwo Migo Membuka Dialog Kebudayaan Bersama Menteri

JAKARTA — Gerak lembut sembilan gadis dari Lampung Utara akan menjadi penanda dimulainya Dialog Kebudayaan bersama Menteri Kebudayaan Fadli Zon, rangkaian menuju puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2026. Melalui Tari Bedayo Abung Siwo Migo, warisan budaya masyarakat Abung, Lampung Utara menghadirkan pesan kebersamaan, penghormatan, dan jati diri budaya ke panggung nasional.

Tarian klasik yang pada 2024 ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia itu akan ditampilkan pada Minggu siang, 8 Februari 2026, di Hotel Horison UPI Serang, Banten—sehari sebelum puncak peringatan HPN.

Sembilan penari yang akan membawakan tarian ini adalah Maya Aulia, Maizal Nadia, Rindiani Mutiara Fitdhin, Chika, Mutiara Husnul Aulia, Syana Nan Pernai, Eka Setiawati, Annisa, dan Feronica. Koreografi digarap Nani Rahayu, dengan tata busana oleh Bayu Pramudita, menghadirkan keanggunan Lampung Abung dalam balutan siger, kain tapis bersulam benang emas, serta kipas sebagai simbol keramahan.

Dialog Kebudayaan ini menghadirkan Menteri Kebudayaan, tiga wartawan senior, serta sepuluh bupati dan wali kota penerima Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026, beserta Dewan Juri. Direktur Anugerah Seni dan Kebudayaan PWI Pusat Yusuf Susilo Hartono menegaskan dialog tersebut menjadi ruang temu antara gerak kebudayaan dari daerah dengan kebijakan kebudayaan di tingkat pusat.

“Dialog ini ingin mencari titik temu, apa saja yang bisa disinergikan antara wartawan kebudayaan, pemerintah daerah penerima anugerah, dengan Kementerian Kebudayaan,” ujar Yusuf, yang juga akan memandu dialog.

Bagi masyarakat Lampung Utara, Tari Bedayo Abung Siwo Migo bukan sekadar seni pertunjukan. Ia adalah representasi falsafah hidup: kebersamaan, keharmonisan, dan penghormatan kepada leluhur. Tarian ini lazim ditampilkan dalam upacara adat dan penyambutan tamu agung, menjadi simbol rasa syukur dan ikatan sosial masyarakat Abung.

Bupati Lampung Utara Hamartoni Ahadis, didampingi Ketua Dewan Kesenian Lampung Utara Nani Rahayu, menjelaskan setiap gerakan sembilan penari mencerminkan nilai adat yang dijaga lintas generasi. “Gerakannya anggun dan teratur, diiringi musik tradisional yang lembut. Semua penarinya perempuan, melambangkan kehalusan budi dan solidaritas,” tuturnya.

Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup, tantangan pelestarian budaya kian nyata. Minat generasi muda terhadap seni tradisi perlahan tergerus. Karena itu, Lampung Utara mendorong berbagai upaya—mulai dari pembinaan sanggar, pendidikan seni di sekolah, hingga menjadikan Bedayo Abung Siwo Migo sebagai atraksi utama pariwisata daerah.

Tampilnya tarian ini di panggung nasional HPN 2026 bukan hanya sebuah pertunjukan pembuka. Ia adalah pernyataan: bahwa dari pinggir, kebudayaan terus bergerak, hidup, dan siap berdialog dengan pusat. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *