KORVE dan Presiden Asri

Ketika Negara Turun Tangan, Budaya Bersih Menemukan Momentumnya

Di tengah persoalan lingkungan yang kerap berulang—sampah pesisir, drainase tersumbat, hingga banjir perkotaan—apa yang terjadi di Teluk Betung Timur, Pulau Pasaran, dan sejumlah pantai di Bandar Lampung pada Jumat (6/2/2026) patut dibaca sebagai lebih dari sekadar agenda seremonial. Ia adalah sinyal: negara sedang serius menanamkan kembali budaya bersih sebagai gerakan bersama.

Pelaksanaan KORVE Gerakan Bersih-bersih Serentak oleh Pemerintah Provinsi Lampung bersama Pemerintah Kota Bandar Lampung merupakan tindak lanjut nyata atas instruksi Presiden yang diperkuat Instruksi Gubernur Lampung Nomor 8 Tahun 2026. Yang membedakan, kali ini bukan hanya imbauan—tetapi keteladanan.

Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Marindo Kurniawan dan Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana turun langsung memungut sampah bersama masyarakat. Forkopimda hadir, pelajar dan mahasiswa ikut serta, warga pesisir menyatu dalam gotong royong. Di titik inilah KORVE menemukan maknanya: kepemimpinan yang hadir di lapangan.

Gerakan ini penting karena persoalan kebersihan bukan sekadar teknis, melainkan soal budaya dan konsistensi. Instruksi Presiden hanya akan menjadi arsip kebijakan jika tidak diterjemahkan ke dalam tindakan nyata. Teluk Betung Timur dan Pulau Pasaran memberi contoh bagaimana kebijakan nasional bisa hidup di tingkat lokal—dengan kolaborasi dan keterlibatan publik.

Pesan yang sama juga datang dari institusi lain. Di hari yang sama, Polda Lampung mengerahkan 500 personel membersihkan Pantai Sukaraja, Duta Wisata, dan Mutun dalam rangka mendukung program Presiden Asri. Ketika aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat bergerak dalam satu irama, isu lingkungan tidak lagi berdiri di pinggir, tetapi masuk ke pusat agenda pembangunan.

Namun, tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah sampah terkumpul. Apakah gerakan ini akan berlanjut menjadi kebiasaan? Apakah KORVE akan hidup setiap pekan di kampung-kampung, sekolah, dan ruang publik? Di sinilah ujian konsistensi kebijakan dan partisipasi warga.

Lampung sedang berada di persimpangan penting. Jika KORVE dan Presiden Asri mampu dijaga sebagai gerakan berkelanjutan, bukan mustahil provinsi ini tak hanya dikenal sebagai lumbung pangan, tetapi juga sebagai contoh daerah yang berhasil membangun budaya bersih berbasis gotong royong.

Karena pada akhirnya, lingkungan yang bersih bukan hanya tentang estetika kota, melainkan tentang martabat, kesehatan, dan masa depan bersama. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *