Zulhas Satukan Ratusan Warga di Gedung Wisma Menpora, Mirza Optimistis Lampung Melompat 10 Tahun ke Depan
JAKARTA – Rindu kampung halaman terasa hangat di sudut ibu kota. Ratusan warga yang tergabung dalam Keluarga Besar Lampung Perantauan memadati Gedung Wisma Menpora, Minggu (21/2/2026), dalam agenda buka puasa bersama yang sarat makna silaturahmi dan konsolidasi menjelang Ramadan.
Di perantauan, jarak tak lagi menjadi sekat. Dialek Lampung bersahut-sahutan, tawa berbaur dengan doa, menghadirkan suasana akrab yang mengobati rindu pada Sai Bumi Ruwa Jurai.
Kegiatan ini digagas Ketua Keluarga Besar Lampung Perantauan yang juga Menteri Koordinator Bidang Pangan RI, Zulkifli Hasan. Sejumlah tokoh nasional dan daerah turut hadir, di antaranya Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir serta Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.
Sejak sore, para peserta berdatangan. Sebagian mengenakan kopiah, sebagian lagi berbincang sambil bersalaman erat. Rangkaian acara dimulai dari sambutan hingga doa bersama menjelang azan magrib.
Dalam sambutannya, Gubernur Mirza menyampaikan optimisme besar terhadap masa depan Lampung. Di hadapan para perantau, ia menegaskan pentingnya kolaborasi lintas daerah dan lintas generasi.
“Lampung akan lebih baik dalam 10 tahun ke depan,” ujar Mirza mantap.
Menurutnya, warga Lampung di perantauan memiliki peran strategis dalam mendorong kemajuan daerah—baik melalui investasi, jejaring nasional, maupun sumbangsih gagasan. Ia menyebut, kemajuan Lampung tak hanya ditentukan dari dalam, tetapi juga dari kekuatan diaspora yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Sementara itu, Zulkifli Hasan menekankan bahwa tradisi silaturahmi adalah modal sosial yang tak ternilai. Ramadan, kata dia, bukan sekadar momentum ibadah, tetapi juga ruang memperkuat persaudaraan.
“Di mana pun kita berada, jangan pernah putus silaturahmi. Inilah kekuatan orang Lampung,” pesannya.
Menjelang azan berkumandang, ruangan hening. Doa-doa dipanjatkan, harapan disematkan—untuk keluarga, untuk Lampung, untuk Indonesia. Ketika waktu berbuka tiba, senyum dan kebersamaan menjadi penutup yang manis.
Di perantauan, Lampung tak sekadar dikenang. Ia hidup dalam kebersamaan, dalam doa, dan dalam tekad untuk terus membangun tanah pusaka. (*).






