Bandar Lampung – Universitas Lampung (Unila) resmi menyelenggarakan Partnership Meeting bersama University of Seville, Spanyol, Selasa (24/2/2026) di Gedung Rektorat lantai dua Unila. Pertemuan strategis ini menandai penguatan kerja sama internasional melalui program HARVEST Erasmus+ sekaligus membuka peluang kolaborasi lebih luas di bidang pendidikan, riset, dan pengembangan kapasitas.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Unila, Prof. Dr. Ayi Ahadiat, S.E., M.B.A., menegaskan kemitraan global merupakan bagian penting agenda internasionalisasi kampus.
“Kolaborasi akademik global bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Melalui program HARVEST Erasmus+, Unila berkomitmen memperkuat kapasitas pendidikan tinggi dalam mendukung sistem pertanian dan pangan berkelanjutan serta mempersiapkan lulusan yang adaptif terhadap tantangan global,” ujar Prof. Ayi saat membuka kegiatan.
Menurutnya, pertemuan ini bukan sekadar agenda seremonial, tetapi platform strategis untuk membangun pemahaman bersama dan merancang kolaborasi jangka panjang, khususnya dalam menjawab tantangan global di bidang pangan dan lingkungan.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Ayi memaparkan profil dan capaian Unila, termasuk keberhasilan tahun pertama implementasi program HARVEST pada 2025 yang berfokus pada Identification of Sustainable Practices and Innovative Pedagogical Trends in the Agricultural and Food Industry. Fase ini menjadi fondasi dalam memetakan praktik pertanian berkelanjutan dan tren pedagogi inovatif sebagai dasar pengembangan micro-courses dan micro-credentials pada tahap berikutnya.
Sementara itu, Koordinator Konsorsium HARVEST dari University of Seville, Prof. Miguel Ángel Martín López, menjelaskan arah strategis program HARVEST periode 2025–2027. Program bertajuk Higher Education Leadership on Agricultural and Food Rights for Environmental Sustainability ini didukung pendanaan Erasmus+ Uni Eropa dan melibatkan delapan universitas dari Eropa dan Asia Tenggara.
“Tahun 2025 difokuskan pada pemetaan praktik berkelanjutan dan inovasi pedagogis. Tahun 2026 diarahkan pada implementasi Capacity Building and Training Programme (CBTP), dan 2027 memasuki tahap uji coba micro-courses, akreditasi micro-credentials, serta pengembangan Students’ Innovation Hubs,” jelas Prof. Miguel.
Dalam forum tersebut turut diluncurkan program CBTP sebagai bagian penguatan kapasitas dosen dan inovasi lintas negara. Program ini dirancang secara hybrid dan lintas disiplin, mencakup pelatihan daring, pengembangan micro-courses, hingga pembentukan student innovation hub yang melibatkan dosen, mahasiswa pascasarjana, staf universitas, komunitas petani, serta organisasi terkait.
Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai gagasan kolaborasi dari sivitas Unila, antara lain pengembangan proyek cold storage untuk menjaga kualitas pangan, penguatan social forestry management, kerja sama ilmu sosial dan sastra, inovasi pengelolaan sampah rumah tangga, serta penguatan ketahanan wilayah pesisir terhadap perubahan iklim.
Menanggapi hal itu, Prof. Miguel menyambut baik potensi kolaborasi lintas disiplin dan menekankan pentingnya kerja sama berkelanjutan yang mampu menjawab isu strategis seperti perubahan iklim, pengelolaan sumber daya alam, serta hak-hak petani dan hak atas pangan. Ia juga membuka peluang pengembangan materi pembelajaran bersama sebagai referensi lintas negara, khususnya di kawasan ASEAN.
Sebagai penutup, Prof. Ayi menegaskan berbagai isu yang telah dibahas menjadi pijakan awal pengembangan proyek bersama yang kolaboratif dan berkelanjutan. Kegiatan diakhiri dengan penyerahan suvenir dan dokumen draf nota kesepahaman (MoU) dari Unila kepada University of Seville sebagai simbol resmi penguatan kemitraan.
Melalui partnership meeting ini, kedua institusi berharap mampu membangun kerja sama jangka panjang yang tidak hanya memperkuat pengembangan akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap penyelesaian isu global di bidang pangan, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan. (*)






