Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji-Sekampung, Elroy Koyari, membantah isu yang menyebut Bendungan Margatiga belum memberikan manfaat irigasi sejak diresmikan pada 2024 lalu.
Menurut Elroy, bendungan yang diresmikan Presiden Joko Widodo tersebut telah berfungsi sesuai peruntukannya dalam sistem pengelolaan air terpadu.
“Bendungan ini memang tidak langsung memberikan manfaat irigasi. Karena sistemnya cascade, dia mensupport bendungan di hilirnya. Jadi manfaat irigasi itu dirasakan di wilayah hilir, termasuk sampai ke daerah Jabung,” ujar Elroy, Selasa (3/3).
Ia menegaskan, peran Bendungan Margatiga sangat krusial dalam menjaga stabilitas pasokan air ke daerah hilir, khususnya untuk Daerah Irigasi (DI) Jabung yang menjadi tumpuan ribuan petani.
“Kalau bendungan ini ada, maka irigasi di hilir seperti Jabung itu tersedia. Jadi fungsinya memang seperti itu, saling mempengaruhi antar bendungan dalam satu sistem,” tambahnya.
Elroy memastikan, saat ini bendungan telah menjalankan fungsi penopang sistem irigasi hilir secara optimal. Selain menopang sektor pertanian, BBWS juga memproyeksikan pengembangan energi terbarukan di kawasan bendungan.
Salah satu rencana strategis yang tengah disiapkan adalah pemanfaatan area genangan untuk potensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sebagai bagian dari penguatan bauran energi bersih di Lampung.
Di sisi lain, pemerintah pusat juga tengah menyiapkan langkah besar memperkuat ketahanan pangan melalui pengembangan Sekampung System. Program ini menyasar daerah irigasi terbesar di Provinsi Lampung dengan total cakupan lahan mencapai sekitar 50.000 hektare.
Proyek tersebut direncanakan didukung skema pinjaman luar negeri (loan) dari Korea dan akan memasuki tahap rehabilitasi serta pengembangan mulai 2026.
“Untuk tahun 2026 sudah ada rencana kegiatan rehabilitasi dan pengembangan Sekampung System. Ini kita harapkan bisa menunjang sektor pertanian di Lampung secara signifikan,” jelas Elroy.
Saat ini proyek masih dalam tahap persiapan menuju konstruksi, dengan proses lelang dijadwalkan berjalan tahun ini. Skemanya dirancang sebagai proyek tahun jamak (multiyears) dengan target penyelesaian dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
“Kalau ini bisa dimanfaatkan secara maksimal, tentu akan sangat menunjang sektor pertanian di Provinsi Lampung,” pungkasnya. (DBS)






