Janji Bangun 6,5 Km Rigid Beton Jadi Harapan Baru 28 Ribu Petani
Penantian panjang warga Kecamatan Rawa Pitu akhirnya terjawab. Setelah lebih dari 30 tahun, untuk pertama kalinya seorang gubernur datang langsung dan berdialog dengan masyarakat di wilayah lumbung pangan tersebut. Adalah Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, yang menempuh perjalanan sekitar lima jam dari Bandar Lampung demi melihat langsung kondisi jalan lintas Gedung Aji–Umbul Mesir, Selasa (3/3).
Perjalanan itu jauh dari kesan seremonial. Mirza bersama rombongan benar-benar melintasi jalan tanah berlubang yang saat musim hujan berubah menjadi kubangan lumpur. Roda kendaraan kerap terperosok, memaksa laju melambat di tengah hamparan sawah yang menjadi sumber penghidupan warga.
Di sepanjang ruas jalan itu, sedikitnya 28 ribu jiwa menggantungkan harapan pada akses yang lebih baik. Mayoritas adalah petani padi, sawit, dan karet. Ironisnya, kawasan dengan luas sawah sekitar 15 ribu hektare itu justru terisolasi oleh infrastruktur yang rapuh.
Subari, warga setempat, tak mampu menyembunyikan rasa harunya saat menyambut gubernur.
“Terima kasih banyak untuk Pak Gubernur dan rombongan dari provinsi serta pemerintah daerah kabupaten termasuk anggota DPRD yang sudah sampai di sini dan melintasi langsung jalan ini. Inilah yang kami rasakan, jalannya memang tidak baik dan jauh dari kata normal,” ujarnya.
Baginya, kehadiran orang nomor satu di Lampung bukan sekadar kunjungan kerja, melainkan pengakuan atas jerih payah petani yang selama ini menopang swasembada pangan daerah.
“Mudah-mudahan dengan hadirnya Pak Gubernur ke sini dan memperbaiki jalan, bisa meningkatkan kesejahteraan kami,” lanjutnya.
Ia bercerita, setiap musim panen usai, kondisi jalan justru semakin hancur. Truk pengangkut gabah memperparah kerusakan. Ditimbun, rusak lagi. Begitu seterusnya selama bertahun-tahun.
“Setiap selesai panen, jalan makin hancur. Ditimbun, rusak lagi. Bertahun-tahun seperti ini,” keluhnya.
Bahkan, sebagai bentuk dukungan, warga dengan spontan menyatakan siap membantu jika kendaraan rombongan terjebak.
“Kami siap dorong, Pak, kalau mobil rombongan masuk genangan,” tuturnya, disambut tawa haru warga lain.
Kepala Desa Sumber Agung, Sahel, mengakui perbaikan pernah dilakukan, namun belum menyentuh seluruh ruas rusak.
“Dengan komitmen Pak Gubernur bahwa jalan akan dirigid beton ini sangat luar biasa bagi kami, walaupun baru 6,5 kilometer. Mudah-mudahan berlanjut, karena masih ada sekitar 11 kilometer lagi yang belum dibangun,” katanya penuh harap.
Menanggapi itu, Mirza memastikan tahap awal pembangunan sepanjang 6,5 kilometer akan menggunakan konstruksi rigid beton. Secara keseluruhan, ruas Umbul Mesir–Rawa Pitu memiliki panjang lebih dari 31 kilometer, dengan sekitar 13,5 kilometer ditargetkan rampung dalam dua tahun ke depan.
“Terdapat sekitar 28 ribu masyarakat di dalamnya, hampir semuanya bertani padi. Dari Rawa Pitu saja, setiap panen bisa menghasilkan puluhan ribu ton beras. Kita ingin komunitas pertanian terjaga dan masyarakatnya makmur,” ujar Mirza.
Ia juga menyinggung fakta bahwa mayoritas warga Rawa Pitu merupakan transmigran yang telah puluhan tahun menetap, namun belum menikmati jalan yang layak.
“Bayangkan saja, sudah lebih dari 30 tahun warga di sini belum merasakan jalan yang baik. Ini harus kita selesaikan,” tegasnya.
Proses pengerjaan, kata dia, kini memasuki tahap tender dan ditargetkan segera dimulai dalam waktu dekat.
Bagi warga Rawa Pitu, kunjungan itu bukan semata tentang proyek infrastruktur. Lebih dari itu, mereka merasa didengar dan diperhatikan setelah tiga dekade menanti.
Di tengah hamparan sawah yang membentang luas, sebuah harapan baru kini tumbuh—bahwa jalan yang selama ini berlumpur akan berubah menjadi akses kokoh menuju kesejahteraan. (dbs).






